Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 3 Maret 2025, 15:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Sungai Citarum di Jawa Barat kembali menjadi sorotan karena kembali dipenuhi sampah setelah sempat dibersihkan.

Beberapa program jangka panjang untuk membersihkan Citarum juga telah diluncurkan beberapa tahun lalu untuk mengatasi sampah di sana.

Sebagai contoh, pada 2014, Pemerintah Provinsi Jawa Barat meluncurkan gerakan Citarum Bersih, Sehat, Lestari dan Indah (Bestari) yang menargetkan Citarum menjadi sungai yang bersih pada 2018.

Di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), pemerintah meluncurkan program Citarum Harum pada 2018.

Dalam program tersebut, Sungai Citarum yang saat itu sudah sangat tercemar ditarget bisa menjadi sungai bersih dalam tujuh tahun alias pada 2025 melalui program Penanggulangan Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

Meski berbagai program jangka panjang telah dilaksanakan, sampah di Sungai Citarum masih menjadi persoalan.

Di sisi lain, nasib Citarum ternyata juga dialami beberapa sungai di dunia. Dilansir dari Conserve Energy Future, berikut tujuh sungai paling tercemar di dunia pada 2023.

Baca juga: Citarum: Salah Satu Sungai Terkotor Dunia dan Upaya Penanganannya

7. Sungai Marilao, Filipina

Sungai Marilao ini adalah andalan bagi jutaan penduduk Filipina yang menggunakan airnya untuk minum dan irigasi.

Akan tetapi, sungai ini tercemar parah dan sebagian besar berasal dari limbah penyamakan kulit, dumping, dan pengolahan emas.

Pembuangan bahan-bahan yang tidak dapat didaur ulang seperti botol plastik, juga terlihat di permukaan air.

Air Sungai Marilao juga mengandung batuan yang mengandung logam berat sehingga membahayakan kesehatan warga.

Sungai Marilao rawan banjir, seringkali membawa sampah ke daratan dan menyebabkan degradasi tanah.

Baca juga: Baru Dibersihkan, Sungai Citarum Kembali Dipenuhi Sampah

6. Sungai Sarno, Italia

Sungai Sarno di Italia bisa disebut sebagai sungai paling tercemar di benua Eropa.

Di hulu, sumber sungai ini bersih dan aman untuk diminum. Namun di sepanjang alirannya, sungai tersebut menerima limbah dari aktivitas industri dan pertanian, sehingga menyebabkan pencemaran di hilir.

Tingginya polutan di sungai telah menyebabkan peningkatan kasus kanker hati yang mengkhawatirkan di wilayah tersebut.

Terlebih lagi, sungai ini mudah banjir sehingga menyebabkan tanah longsor dan racun di bumi. Kontrol pengolahan limbah yang buruk telah menyebabkan peningkatan polusi di Sarno.

Baca juga: Cemari Pantai di Bali, Sampah dari 4 Sungai di Jawa Bakal Ditangani

5. Sungai Mississippi, AS

Uap air berembus di atas Air Terjun St Anthony di Sungai Mississippi, Minneapolis, Minnesota, saat terjadi suhu dingin yang ekstrem, Kamis (31/1/2019). Penduduk AS tengah menghadapi fenomena cuaca dingin ekstrem dengan suhu mencapai minus puluhan derajat Celsius dan telah menyebabkan sedikitnya 7 orang tewas.AFP PHOTO/KEREM YUCEL Uap air berembus di atas Air Terjun St Anthony di Sungai Mississippi, Minneapolis, Minnesota, saat terjadi suhu dingin yang ekstrem, Kamis (31/1/2019). Penduduk AS tengah menghadapi fenomena cuaca dingin ekstrem dengan suhu mencapai minus puluhan derajat Celsius dan telah menyebabkan sedikitnya 7 orang tewas.

Sungai Mississippi adalah salah satu sungai terpanjang di dunia yang terletak di Amerika Serikat (AS). Sungai ini berwarna coklat karena banyaknya limbah yang dibuang ke sungai.

Kehidupan laut di sungai telah berkurang drastis akibat berbagai tumpahan minyak di masa lalu. Industri dan petani yang menggunakan bahan kimia berbahaya dan membuangnya ke sungai juga berkontribusi terhadap pencemaran sungai ini.

Pengujian yang dilakukan menunjukkan tingginya tingkat limpasan pupuk berbasis nitrogen mengganggu rantai makanan dan mengurangi kadar oksigen di dalam air.

Polutan utama di Sungai Mississippi adalah benzena, merkuri, dan arsenik.

Baca juga: Dukung Pelestarian Lingkungan, Pertamina Tanam Pohon di Hulu Sungai Ciliwung

4. Sungai Citarum, Indonesia

Lautan sampah membentang di perairan Sungai Citarum di kawasan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Rabu (12/6/2024) pagi. Tepat di bawah Jembatan Callender Hamilton (DH) atau Babakan Sapan (BBS) sampah-sampah itu menutup lapisan air sepanjang mata memandang dari ujung aliran sungai hingga muara di waduk Saguling.KOMPAS.com/BAGUS PUJI PANUNTUN Lautan sampah membentang di perairan Sungai Citarum di kawasan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Rabu (12/6/2024) pagi. Tepat di bawah Jembatan Callender Hamilton (DH) atau Babakan Sapan (BBS) sampah-sampah itu menutup lapisan air sepanjang mata memandang dari ujung aliran sungai hingga muara di waduk Saguling.

Sungai Citarum mengalir di daerah dengan pemukiman manusia yang padat dan sekitar 2000 pabrik.

Limbah industri di sekitarnya telah meningkatkan kadar merkuri dalam air jauh melebihi ambang batas yang ditetapkan.

Dengan pencemaran yang terjadi di sepanjang sungai, menjadikan Sungai Citarum kotor dan tercemar oleh berbagai sumber.

Akan tetapi. sebagian masyarakat yang tinggal di dekat sungai terpaksa menggunakan sumber air tersebut meskipun kondisinya tercemar parah.

Baca juga: Penginderaan Jauh Bantu Pantau Sampah Plastik di Sungai dan Danau

3. Sungai Doce, Brasil

Sungai Doce mengalir melalui bagian Tenggara Brasil sepanjang 853 kilometer. Sungai ini dulunya merupakan sumber air tawar yang digunakan oleh industri pembuatan baja.

Pada 5 November 2015, sungai tersebut sempat terkontaminasi oleh 60 juta meter kubik lumpur bijih besi dari dua bendungan bendungan yang jebol.

Jumlah tersebut setara dengan 25.000 kolam renang Olimpiade atau 187 kapal tanker minyak yang berisi bahan yang terkontaminasi.

Logam berat dari lumpur yang mencemari sungai membunuh banyak biota air dan seketika membuat air sungai tidak bisa lagi dikonsumsi dan dimanfaatkan oleh manusia.

Para ahli menyatakan bahwa akan sangat sulit bagi sungai tersebut untuk pulih dari bencana ekologis, menjadikannya salah satu sungai paling tercemar di dunia.

Baca juga: 44 Persen Sungai Terbesar di Dunia Alami Penurunan Jumlah Air

2. Sungai Kuning, China

ilustrasi Sungai Kuning, salah satu sungai terpanjang di dunia.iStockphoto/luxiangjian4711 ilustrasi Sungai Kuning, salah satu sungai terpanjang di dunia.

Perekonomian China tumbuh dengan cepat karena industrialisasi yang pesat. Akan tetapi, pesatnya prekonomian tersebut juga berdampak terhadap lingkungan hidup, salah satunya Sungai Kuning.

Sungai Kuning menjadi tempat pembuangan limbah dari berbagai industri, termasuk pabrik kimia, sehingga menjadikan airnya terlalu beracun bahkan untuk pertanian.

Lebih khusus lagi, industri pertambangan batu bara banyak membuang limbahnya kembali ke sungai setelah menggunakan air dari sungai tersebut untuk operasionalnya.

Diperkirakan lebih dari 80 persen Sungai Kuning mengalami pencemaran yang kronis. Laporan yang sama menunjukkan, sekitar 4 miliar ton air limbah dibuang ke sungai itu setiap tahunnya.

Yang mengejutkan, meskipun tingkat polusinya mengkhawatirkan, sebagian penduduk Tiongkok masih bergantung pada Sungai Kuning untuk air minum.

Hal ini memicu munculnya penyakit yang ditularkan melalui air. Baru-baru ini, ada upaya untuk melarang masyarakat meminum air dari sungai ini karena tidak aman untuk dikonsumsi manusia atau hewan.

Baca juga: Dukung Perbaikan Kualitas Pendidikan, BRI Peduli Bantu Renovasi SDN 001 Sungai Pagar Riau

1. Sungai Gangga, India

Pemandangan Sungai Gangga di Varanasi, India.Wikipedia Pemandangan Sungai Gangga di Varanasi, India.

Sungai Gangga dinobatkan sebagai salah satu sungai paling suci di India. Umat Hindu di sana meyakini, Sungai Gangga mampu membersihkan dosa-dosa manusia.

Sungai Gangga juga merupakan sungai terbesar ketiga di dunia, di mana 2 miliar orang menggantungkan kebutuhan airnya dari sana.

Meski dinobatkan sebagai tempat suci dan menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang, Sungai Gangga menjadi sungai paling tercemar di dunia.

Ada sekitar satu miliar galon limbah mentah dan limbah industri yang mencemari sungai itu setiap harinya.

Berbagai plastik dan jenis sampah lainnya turut mencemari sungai tersebut.

Baca juga: Solusi Air Bersih di Desa Sungai Payang, Begini Upaya MMSGI Dorong Kesejahteraan Warga

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
Pemerintah
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Pemerintah
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Pemerintah
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
LSM/Figur
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
BUMN
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
Swasta
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
Swasta
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pemerintah
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Pemerintah
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
Pemerintah
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Pemerintah
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Pemerintah
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
Pemerintah
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pemerintah
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau