Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
ASA KEBERLANJUTAN

Solusi Air Bersih di Desa Sungai Payang, Begini Upaya MMSGI Dorong Kesejahteraan Warga

Kompas.com, 6 Oktober 2024, 11:39 WIB
Aningtias Jatmika,
Erlangga Satya Darmawan,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com – “Setiap individu harus mengubah kebiasaan terkait ketersediaan air. Setiap negara pun perlu mencantumkan hak atas air dalam konstitusi atau peraturan daerah.”

Pernyataan itu dengan tegas disampaikan Presiden Dewan Air Sedunia (World Water Council) Loic Fauchon dalam gelaran World Water Forum (WWF) Ke-10 yang dihelat di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali pada 18-25 Mei 2024.

Pernyataan tersebut menggambarkan betapa pentingnya ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Tiap tahun, kebutuhan terhadap air bersih mengalami peningkatan seiring pertumbuhan jumlah penduduk.

Namun, ketersediaan air bersih justru semakin terbatas. Penyebabnya beragam, mulai dari penyempitan lahan resapan air, banyaknya pembangunan yang tidak memperhitungkan keseimbangan alam, eksploitasi sumber air baku yang tidak memperhitungkan kelestarian sumber air, hingga perubahan iklim.

Tantangan serupa juga dialami warga Desa Sungai Payang, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Sebelumnya, mereka hanya mengandalkan air hujan ataupun air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Warga Dusun Donomulyo, misalnya, bergantung pada sumur manual dengan kedalaman 4-6 meter yang dibangun seadanya.

“Desa kami berada di dataran rendah sehingga ketika banjir, sumur pun ikut terendam,” cerita Ramadhan. Ia adalah Kepala Dusun Donomulyo, Desa Sungai Payang.

Sumur yang terendam membuat air menjadi keruh dan tidak layak konsumsi. Kondisi air yang kotor tersebut menyebabkan berbagai penyakit, seperti gatal-gatal dan diare.

Ketua Rukun Tetangga (RT) 7 Dusun Sentu, Desa Sungai Payang, Muhatim, juga merasakan tantangan serupa. Ketersediaan air, katanya, merupakan aspek vital bagi warganya yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

“Warga kami bergantung pada ketersediaan air untuk mengaliri lahan pertanian. Namun, saat musim kemarau, warga seringkali kesulitan mendapatkan air yang cukup sehingga berdampak pada hasil pertanian,” tutur Muhatim.

Baca juga: Komitmen MMSGI Menyulap Lahan Pascatambang Jadi Taman Kehidupan di Bumi Mahakam

Beruntung, di wilayah-wilayah tersebut, PT Multi Harapan Utama (MHU), di bawah naungan MMS Group Indonesia (MMSGI)—perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan batu bara—menjalankan program penyediaan air bersih.

“Desa Sungai Payang sendiri merupakan desa lingkar tambang MHU. Kami berkomitmen penuh untuk memastikan kesejahteraan masyarakat sekitar, termasuk dalam hal penyediaan air bersih,” ujar Chief Executive Officer (CEO) MMSGI Sendy Greti.

Lewat program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), MHU membantu warga untuk mengakses sumber air bersih, baik dari dari air tanah yang berasal dari sumur bor atau mata air maupun sungai.

Adapun air bersih dari air tanah dimaksimalkan lewat pembangunan fasilitas penyaringan yang dilakukan dalam bak-bak penampung. Di bak tersebut, air dicampur sejumlah bahan kimia untuk menghilangkan bakteri.

Setelah itu, air diolah menggunakan mesin untuk pemisahan lumpur. Proses ini dilakukan di fasilitas instalasi pengolahan air atau water treatment plant (WTP).

Fasilitas WTP yang dibangun MHU untuk mengolah air bersih di Desa Sungai Payang.MMSGI Fasilitas WTP yang dibangun MHU untuk mengolah air bersih di Desa Sungai Payang.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Lingkungan AI Kian Besar, Haruskah Berhenti Menggunakannya?
Dampak Lingkungan AI Kian Besar, Haruskah Berhenti Menggunakannya?
Pemerintah
Fenomena 'Sticky Floor', Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Fenomena "Sticky Floor", Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Swasta
Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Pemerintah
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pemerintah
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Pemerintah
Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Pemerintah
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
LSM/Figur
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
Pemerintah
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
LSM/Figur
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Pemerintah
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Pemerintah
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
LSM/Figur
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Pemerintah
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau