Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemuda Cilacap Ini Bangun Pembangkit Hibrida yang Alirkan Listrik ke Rumah Warga

Kompas.com, 24 Maret 2025, 19:16 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Mohamad Jamaludin, pemuda asal Dusun Bondan, Cilacap, Jawa Tengah membangun pembangkit listrik tenaga hibrida yang menggabungkan tenaga surya dan angin untuk mengaliri listrik ke rumah warga.

Pasalnya, saat malam tiba dusun tersebut diselimuti kegelapan lantaran sebagian besar warga masih menggunakan pelita minyak tanah untuk penerangan.

Sementara warga lainnya terpaksa menarik kabel dari kelurahan lain, guna mengalirkan listrik dengan jarak hingga 5 kilometer.

Baca juga: BRIN Gaet Korsel untuk Kembangkan Teknologi Energi Baru Terbarukan

“Kami memulai perjalanan membangkitkan listrik pada tahun 2017. Dimulai dengan masuknya teknologi Hybrid Energy One Pole atau HEOP, yang menggabungkan sel surya dan kincir angin," ungkap Jamaludin dalam keterangannya, Senin (24/3/2025).

Jamaludin menyampaikan, pengembangan PLTH bekerja sama dengan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Cilacap melalui Desa Energi Berdikari (DEB) program Energi Mandiri Tenaga Surya dan Angin dan Energi Mandiri Tambak Ikan.

Dua tahun berikutnya, pembangkit listrik tenaga hibrida dikembangkan dengan kapasitas yang lebih besar, terdiri dari lima kincir angin dan 24 unit panel surya. 

“Selain mampu menghasilkan (listrik ke) 78 rumah dan fasilitas umum, PLTH juga dimanfaatkan untuk aktivitas tambak ikan dan pengolahan air payau menjadi layak konsumsi dengan sistem desalinasi," ungkap Jamaludin.

Listrik ini juga digunakan dalam pengoperasian alat desalinasi udara dari payau menjadi tawar. Selain itu, menyalakan alat aerator tambak milik kelompok nelayan.

“Aerator tambak atau mesin penghasil gelembung udara berfungsi untuk menggerakkan udara di dalam akuarium, kolam atau tambak. Supaya kaya kandungan oksigennya,” papar dia.

Jamaludin menuturkan, pemanfaatan aerator tambak mendorong program intensifikasi tambak ikan dengan teknologi biofilter tambak polikultur yang meningkatkan produksi ikan bandeng, udang, serra kerang totok.

Baca juga: Lewat 2 Megaproyek, PLN IP Genjot Pembangkit EBT 2,4 Gigawatt pada 2035

“Saat kita terus bersahabat dan peduli dengan alam, ia tidak pernah kejam dan membiarkan kita tenggelam dalam kelam,” ujar Jamaludin.

Mengembangkan Potensi

Adapun Jamaludin telah mengikuti program sertifikasi ketenagalistrikan yang diadakan Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Sertifikasi itu bertujuan meningkatkan kompetensi teknis local heroes di bidang regulasi, instalasi, hingga pemeliharaan listrik.

Selain itu, memberikan pengakuan resmi sebagai tenaga teknik ketenagalistrikan sehingga para peserta dapat bersaing di tingkat profesional.

Jamaludin menjadi salah satu peserta dari 22 Pahlawan Lokal yang berasal dari 12 provinsi di Indonesia, mewakili enam subholding Pertamina, mengungkapkan bahwa ia mendapatkan manfaat yang besar dari program ini.

Baca juga: 8 Pembangkit PLN Suplai Listrik Hijau ke Pelanggan, Kapasitasnya Capai 10,99 TWh

“Program sertifikasi ini sangat membantu memantapkan pengelolaan PLTS di Dusun Bondan. Dengan wawasan dan ilmu yang saya dapatkan, saya berharap PLTS ini dapat terus berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat di masa depan,” ungkap Jamaludin.

Sementara itu, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso, menyebutkan program DEB merupakan inisiatif Pertamina untuk menciptakan kemandirian energi berbasis sumber daya lokal.

Sejauh ini, DEB melibatkan berbagai komunitas di Indonesia dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

“Pertamina menjalankan program DEB di berbagai wilayah di Indonesia. Program DEB menjadi sarana yang tepat mengenalkan energi bersih yang berkelanjutan kepada masyarakat pedesaan," jelas Fadjar.

"Mendukung swasembada energi nasional dan ketahanan pangan, serta menurunkan emisi karbon dan mendorong perekonomian desa,” imbuh dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau