Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Taman Nasional di Kenya Berbenah di Tengah Ancaman Perubahan Iklim

Kompas.com, 26 Mei 2025, 20:17 WIB
Eriana Widya Astuti,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth.Org

Fokusnya adalah membangun program konservasi jangka panjang untuk memastikan masa depan Meru tetap hidup, dan tidak akan pernah terlupakan lagi. Melalui kemitraan dengan Kenya Wildlife Service dan Born Free Foundation, Meru mulai dibangun kembali.

Pada tahun 1980-an dan 1990-an, Taman Nasional Meru menghadapi krisis perburuan liar yang parah yang secara drastis mengurangi populasi satwa liarnya.

Gajah menjadi hewan yang paling terdampak, dengan jumlah yang menurun drastis dari ribuan menjadi hanya beberapa ratus selama periode ini.

Badak benar-benar punah dari daerah tersebut, yang menyebabkan penurunan signifikan dalam pariwisata dan muncul lagi diskusi tentang kemungkinan pencabutan status taman nasional.

Upaya konservasi terpadu, termasuk pendirian tempat perlindungan badak pada tahun 2002 dan pengenalan kembali berbagai spesies ke tanah ini, merupakan contoh nyata konservasi berkontribusi terhadap pemulihan taman secara bertahap.

Saat ini, taman ini menjadi rumah bagi gajah, cheetah, zebra Grevy, jerapah reticulated, dan lebih dari 75 singa yang diyakini merupakan keturunan dari singa-singa yang awalnya dilepaskan di sini. Elsa, singa betina itu masih hidup dengan kuat.

Baca juga: Curhat Petani Gayo, Produksi Kopi Turun akibat Perubahan Iklim

Namun, mempertahankan Meru tetap seperti ini membutuhkan komitmen besar. Perubahan iklim menjadi ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ujian Baru

Wilayah ini telah mengalami peningkatan suhu dan penurunan curah hujan selama beberapa dekade terakhir yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan.

Pada tahun 2022, Kenya menghadapi salah satu yang terburuk dalam sejarah terkini, yang mengakibatkan kematian banyak spesies karena kekurangan makanan dan air.

Di Meru, curah hujan telah menurun hingga hanya sepertiga dari jumlah yang turun pada tahun 1990, dan suhu telah meningkat antara 0,5 dan 1 derajat Celcius.

Perubahan iklim ini telah menyebabkan tekanan panas dan air yang lebih besar di seluruh lanskap, yang memengaruhi satwa liar dan tumbuhan. Sebagian besar negara mengalami sungai mengering, panen gagal, dan masyarakat mengalami krisis.

Baca juga: Perubahan Iklim, Salju Akan Makin Langka pada Akhir Abad Ini

Meski begitu, upaya keras Meru untuk bangkit kembali telah membuahkan hasil. Walau mempertahankan garis pertahanan menjadi semakin sulit karena dampak iklim semakin kuat di wilayah tersebut.

Di Elsa's Kopje, tim telah mengamati hal ini secara langsung. Satwa liar semakin terkonsentrasi di sekitar sumber air. Tumbuhan, yang biasanya rimbun setelah hujan, menipis.

Di taman-taman terdekat seperti Amboseli, kondisinya menjadi sangat parah sehingga tim Elewana Collection, yang mengoperasikan Elsa's Kopje, harus memobilisasi bantuan darurat untuk masyarakat sekitar.

Grace dan timnya di lokasi tersebut bekerja sama erat dengan Born Free Foundation dan Kenya Wildlife Service, melacak pergerakan hewan, melaporkan cedera, dan membantu dengan data waktu nyata yang mendukung upaya perlindungan spesies dan ketahanan iklim.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau