Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lalu Lintas Laut Meningkat Seiring Hilangnya Es, Ancam Iklim Global

Kompas.com, 10 Juni 2025, 14:49 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber France24

KOMPAS.com-Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pemanasan global yang disebabkan oleh manusia memungkinkan kapal berlayar melalui es musim dingin Arktik.

Salah satu buktinya adalah ketika Kapal Christophe de Margerie berhasil berlabuh di pelabuhan Arktik terpencil di Siberia pada Februari 2021.

Momen itu pun seakan menunjukkan dengan jelas bahwa rute pelayaran global akan berubah selamanya.

Berbagai penelitian ilmiah mengungkapkan, Arktik telah memanas empat kali lebih cepat daripada tempat lain di planet ini sejak 1979.

Mencairnya es laut membuka jalur untuk peningkatan pengiriman dan lalu lintas kapal lainnya di wilayah tersebut, terutama di sepanjang Rute Laut Utara, jalur pintas Arktik antara Eropa dan Asia yang membentang lebih dari 9.000 kilometer.

Musim pengiriman juga diperpanjang sebagai akibat dari pemanasan iklim.

Baca juga: Area Es Terakhir di Arktik Terancam Hilang Lebih Cepat

Namun, dengan meningkatnya lalu lintas, terjadi lebih banyak degradasi lingkungan.

Konsekuensinya jelas mengerikan, mulai dari hilangnya keanekaragaman hayati hingga polusi. Dan karena Arktik merupakan pengatur utama iklim Bumi, apa yang terjadi di wilayah itu dapat dirasakan ribuan kilometer jauhnya.

Melansir France24, Minggu (8/6/2025) ini ibarat lingkaran setan. Saat es laut mencair dan membuka rute baru untuk lalu lintas maritim di Arktik, dampak lingkungan yang disebabkan oleh kapal yang membakar bahan bakar fosil menambah pemanasan global, yang pada gilirannya mencairkan lebih banyak es laut.

Sebagai gambaran adalah ketika karbon hitam atau bahan jelaga dari mesin gas dan diesel itu terpancar.

Karbon hitam tidak hanya mencemari udara dengan partikel, tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim dengan menghangatkan udara. Pasalnya saat karbon hitam mengendap di es Kutub Utara, itu bisa menghilangkan kemampuan untuk memantulkan panas.

"Warna hitam yang mengendap di es putih berarti es tersebut menyerap lebih banyak sinar matahari, yang menyebabkan lebih banyak pencairan," jelas Sammie Buzzard, seorang ilmuwan kutub di Pusat Pengamatan dan Pemodelan Kutub di Universitas Northumbria.

Emisi karbon hitam tumbuh hingga 75 persen di Kutub Utara hanya dalam waktu empat tahun, antara tahun 2015 hingga 2019.

Peningkatan lalu lintas maritim juga menyebabkan polusi suara yang mengganggu mamalia seperti paus. Kelompok paus menggunakan suara untuk menemukan makanan, pasangan, menghindari predator, dan bermigrasi.

Studi menemukan bahwa kebisingan bawah air di beberapa tempat di Samudra Arktik meningkat dua kali lipat hanya dalam enam tahun karena peningkatan lalu lintas laut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
LSM/Figur
PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri
PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri
Pemerintah
Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah
Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah
Pemerintah
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Swasta
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Swasta
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
LSM/Figur
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Pemerintah
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Pemerintah
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Pemerintah
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Pemerintah
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Pemerintah
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau