Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Bila prosedur normal digunakan, warga bumi masih bakal dikungkung cemas, takut dan nestapa setidaknya hingga 2025.
Baca juga: Moratorium Tambang Nikel di Raja Ampat
Syukurlah, ilmuwan lentur dan sains memang tidak harus berada dalam ruang hampa. Sebaliknya sains dan ilmuwan bertegur sapa dengan realitas, masalah aktual manusia.
Berkat kampanye vaksin terbesar dalam sejarah selama lebih dari setahun, hingga Juni 2022, lebih dari 11,9 miliar dosis vaksin Covid-19 disuntikkan kepada penduduk bumi di 184 negara (Bloomberg, 2 Juni 2022).
Setahun kemudian, angka itu meningkat menjadi lebih dari 13 miliar dosis (data WHO).
Vaksin identik dengan dollar, kemampuan membeli, dan itulah yang menyebabkan ketimpangan dalam mengaksesnya.
Saat negara-negara di dunia berlomba menjalankan vaksinasi, 2021-2022, Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan sebanyak 80 persen populasi di benua Afrika belum disuntik vaksin untuk mencegah Covid-19.
Kerja sama global lagi-lagi berjalan. COVAX AMC sukses menghimpun dana 10,8 miliar dollar AS pada 2021 lalu.
Ini tak lain inisiatif global yang punya misi membagikan vaksin kepada negara anggota, yaitu 92 negara berpendapatan menengah ke bawah dan negara berpendapatan rendah.
Sampai 31 Desember 2023, inisiatif COVAX telah memasok hampir dua miliar dosis vaksin Covid-19 dan alat suntik yang aman ke 146 negara (WHO).
Kita warga bumi berada di planet yang sama. Bumi ini adalah rumah kita bersama. Pintunya banyak dan terbuka. Bila sebagian pojok bumi berurusan dengan virus, maka virus itu tetap harus dianggap sebagai ancaman.
Tepat di sini mentalitas yang dibagi oleh Jared Diamond relevan, yaitu memeluk “paronoia konstruktif”.
Diamond menyadari bahwa memelihara kekhawatiran, kecemasan dan keragu-raguan itu kadang berguna agar manusia selamat, terhindar dari bahaya.
Iya paranoia, tapi agar tidak dikurung energi negatif, Diamond menambahkan kata konstruktif di belakangnya.
Baca juga: Aksi Iklim Tak Boleh Gulung Tikar
Profesor geografi di UCLA, Amerika Serikat itu menyadarinya tatkala dia selamat dari kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya di perairan Papua.
Waktu itu, dia nekat naik perahu kayu sepanjang 9 meteran yang digerakkan motor tempel. Diamond naik perahu kayu agar lekas tiba ke pulau utama Papua (wilayah Indonesia).
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya