Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Saat kejadian, jarak tempat penulis “The World Until Yesterday” itu berdiri dengan pulau utama sekitar 20 kilometer. Namun, ombak di perairan Papua sungguh tidak bersahabat, menggulungnya bersama empat penumpang dan tiga awak perahu.
Sempat terlunta-lunta di atas perahu yang terbalik sekitar dua jam, Diamond serta penumpang dan awak perahu diselamatkan oleh perahu yang datang menolong. Alhasil dia kembali ke tempat dia bertolak.
Setelah kejadian itu, Diamond tobat. Sejak saat itu, dia menghidupkan radar paranoidnya dalam kesempatan-kesempatan yang sering menggodanya untuk teledor, kendor, dan kurang hati-hati.
Paranoia semacam itu, sadar atau tidak, telah kita adaptasi saat pandemi Covid-19 menerjang bumi. Kita tidak hidup seperti masa normal. Cemas, khawatir, waswas, bahkan takut mengurung kita semua.
Kita pun menggunakan masker—dan tidak bisa tawar menawar, serta protokol kesehatan lainnya.
Paranoia itu merupakan sikap kehati-hatian, karena kita ingin keluar dari pandemi dengan selamat. Bagaimanapun nyawa adalah harta paling berharga yang harus diperjuangkan oleh manusia.
Demi melestarikan keturunan anak Adam dan Hawa. Menyelamatkan spesies manusia, Homo sapiens.
Sekarang, masa-masa muram itu sudah lewat. Pada awal Mei 2023, WHO mencabut status darurat kesehatan global. Covid-19 bukan lagi berstatus pandemi.
Lewat Keputusan Presiden Nomor 17 tahun 2023, Presiden saat itu, Joko Widodo menetapkan berakhirnya status pandemi Corona Virus Disease 2019 yang berlaku pada 21 Juni 2023.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengklaim telah menyebarkan 400 juta dosis vaksin yang menyasar lebih dari 200 juta penduduk Indonesia.
Ingat vaksin diberikan dalam dua hingga tiga kali untuk membentuk kekebalan individu dan kekebalan kelompok.
BGS juga menyebut negeri kita termasuk salah satu negara yang tercepat dalam mengendalikan pandemi (Kompas.id, 10 Oktober 2024).
Namun begitu, pandemi Covid-19 telah mengajarkan banyak hal. Satu yang terpenting: Waspada selalu terhadap apa yang terjadi di pojok-pojok bumi.
Ada baiknya negara-negara di dunia terus mencamkan peringatan dari Tedros Ghebreyesus, beberapa bulan sebelum dilantik menjadi Direktur Jenderal WHO periode kedua.
“Ancaman pandemi seperti Covid-19 bukan akan menjadi yang terakhir kalinya” menerjang bumi. Di masa depan, ujar pria Ethiopia ini, virus dengan potensi yang lebih dapat ditularkan dan lebih mematikan mungkin saja muncul. Ini kepastian evolusioner, sebutnya.
“Together for a healthier world,” kata Tedros lagi. Apakah itu cukup?
Saya kira, itu perlu ditambah dengan pesan Harari. Dalam hidup yang diselimuti misteri bangsa manusia harus selalu berbagi informasi secara global, bekerja sama, saling percaya, memiliki kepemimpinan efektif, serta mengubah kesepakatan masa normal secara drastis dan tak umum agar efektif menanggulangi pandemi.
WHO, yang coba dikerdilkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan menarik keluar negerinya dari organisasi kesehatan dunia itu, tetap layak diberi kepercayaan.
Organisasi ini harus memimpin dan memandu dunia dalam memitigasi serta menghadapi ancaman penyakit, baik yang telah terdeteksi atau yang datang tiba-tiba seperti Covid-19.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya