Ia menyoroti bahwa salah satu penyebabnya adalah anak-anak jarang dilibatkan dalam pengelolaan sampah di rumah. Menurut Maya, masih banyak orang tua, khususnya ibu yang meminta anak cukup meletakkan sampah di dapur, sementara sisanya dibereskan sendiri oleh orang tua.
Baca juga: 4 Langkah Berkelanjutan Unilever, Tekan Konsumsi Plastik hingga Ambisi Capai NZE
Karena itu, ia menekankan pentingnya mengedukasi orang tua agar perubahan perilaku anak juga didukung oleh lingkungan keluarga.
Selain itu, Maya mengakui tantangan lain yang tak kalah besar adalah menarik minat anak muda untuk belajar tentang isu lingkungan. Banyak dari mereka yang belum menganggap isu ini menarik untuk dipelajari.
“Tantangan lainnya adalah bagaimana mendapatkan atensi mereka untuk mempelajari tentang isu lingkungan ini,” ujarnya.
Untuk itu, Maya bersama KG Media terus mengembangkan metode pembelajaran yang atraktif, termasuk melalui acara langsung seperti roadshow yang dirancang agar sesuai dengan gaya dan minat anak muda.
“Hal ini diharapkan dapat menarik atensi mereka. Menjadi sesuatu yang mereka anggap keren untuk dibicarakan, sehingga mereka mau untuk belajar bersama untuk menjaga lingkungan secara berkelanjutan,” pungkas Maya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya