Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IPB Kembangkan 6 Galur Ulat Sutra, Kurangi Impor hingga Jadi Solusi Gizi dan Lingkungan

Kompas.com, 29 Juli 2025, 11:28 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketergantungan Indonesia terhadap impor benang sutra masih sangat tinggi.

Saat ini, sekitar 95 persen kebutuhan nasional dipenuhi dari luar negeri, sementara produksi dalam negeri baru mencapai sekitar 500 ton per tahun.

Padahal, kebutuhan benang sutra alam di Indonesia setiap tahunnya mencapai 2.000 ton untuk benang mentah dan 2.500 ton benang pintal.

Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti IPB University mengembangkan enam galur sintetik unggul ulat sutra non-murbei Samia cynthia ricini.

Galur ini dirancang untuk meningkatkan kemandirian produksi sutra nasional sekaligus memberi manfaat tambahan di sektor lingkungan dan kesehatan.

Enam galur yang dikembangkan diberi nama Jopati, Prasojo, Pasopati, Joglo, Progo, dan Tawang Biru, dengan karakteristik warna dan ketahanan lingkungan yang berbeda.

Baca juga: BRIN Kembangkan Varietas Padi Tahan Iklim Ekstrem

Empat galur pertama dikembangkan khusus untuk wilayah marginal yang panas dan kering, sementara dua galur terakhir ditujukan untuk wilayah beriklim optimal.

“Galur ini memiliki ketahanan terhadap stres lingkungan, terutama panas, sehingga cocok dipelihara di wilayah marjinal untuk menopang perekonomian masyarakat,” ujar ketua tim peneliti, Ronny Rachman Noor, sebagaimana dikutip dari laman IPB University, Senin (28/7/2025).

Dibandingkan ulat sutra alam pada umumnya, galur Samia ricini ini memiliki produktivitas minimal dua kali lipat dan menghasilkan serat sutra dengan tekstur unik yang tidak mengkilap.

Rony mengatakan bahwa karakter ini berpotensi menjadi tren baru dalam industri fesyen. Selain itu, galur ini memiliki siklus hidup lebih pendek, tingkat kematian lebih rendah, serta biaya pakan yang lebih hemat karena dapat hidup dengan pakan daun singkong dan jarak kepyar yang mudah didapat.

Selain itu, pengembangan galur ini tidak hanya ditujukan untuk industri sutra, tetapi juga untuk menciptakan sistem produksi yang berkelanjutan.

Baca juga: BRIN Teliti Daun Kelor untuk Cegah Balita Stunting

Tim peneliti mengembangkan pendekatan zero waste dengan memanfaatkan pupa ulat sebagai bahan makanan bayi untuk mencegah stunting, serta sebagai pakan ternak dan ikan. Sisa pakan, feses, dan urine ulat juga diolah menjadi pupuk organik ramah lingkungan.

Selain manfaat pangan dan lingkungan, kokon Samia ricini juga mengandung senyawa serisin yang memiliki aktivitas bioaktif lebih tinggi dibandingkan kokon ulat sutra murbei (Bombyx mori).

Zat ini kini, menurut Rony, sedang dikembangkan untuk industri kosmetik karena diyakini dapat membantu membuat kulit wajah lebih bercahaya. Produk kesehatan lain yang tengah diuji adalah lembar penutup luka pascaoperasi berbahan alami dan ramah lingkungan.

Rony menjelaskan bahwa pengembangan galur ini sudah diterapkan secara terbatas di wilayah Kulon Progo dan Pasuruan sebagai daerah percontohan, bekerja sama dengan pemerintah setempat.

Dalam lima tahun terakhir, sistem kemitraan juga telah dibangun dengan peternak sutra di Pasuruan, mulai dari pemeliharaan ulat hingga pengolahan benang menjadi produk bernilai tambah menggunakan teknologi eco printing.

Menurut Ronny, jika galur ini dapat dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia, dampaknya tidak hanya akan mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga meningkatkan taraf hidup peternak melalui pendekatan usaha yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Baca juga: Tarif 19 Persen AS Bukan Kiamat, Ladang Cuan Indonesia Ada di Tekstil

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau