Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 11 Oktober 2025, 08:07 WIB
HTRMN,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Selain pengelolaan limbah padat, perusahaan juga menangani air lindi yang dihasilkan dari tumpukan sampah. Fasilitas Leachate Treatment Plant (LTP) berfungsi mengolah air lindi menjadi air layak guna melalui proses filtrasi. Sistem ini menggunakan reaktor pengaduk yang beroperasi selama 24 jam untuk mengendapkan dan menyaring kontaminan.

Baca juga: Vale Indonesia Lakukan Reklamasi 3.791 Hektare Lahan Tambang di Sulsel

“Air lindi kami kelola dengan sistem filterisasi. Setelah bersih, air itu kami salurkan ke tangki untuk digunakan kembali,” jelas Hery.

Air hasil olahan pun tidak terbuang percuma. PT Vale memanfaatkannya untuk penyiraman jalan di kawasan tambang guna mengurangi debu sesuai izin yang dimiliki, terutama saat cuaca kering. Langkah ini menjadi bagian dari penerapan prinsip sirkular ekonomi yang meminimalkan limbah dan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya.

Budi daya maggot dari sampah organik

Selain pengelolaan air lindi, inovasi lain yang lahir dari unit segregation adalah pemanfaatan sampah organik melalui budi daya maggot.

Beberapa langkah dari area pemilahan, sebuah ruangan berdinding jaring bertuliskan “Budidaya Maggot (BSF)” menjadi titik perhatian lain. Di dalamnya, terdapat kotak-kotak kayu berisi sampah organik yang sedang diurai ribuan maggot.

Baca juga: 19 Tahun Perjalanan Himalaya Hill, dari Lahan Tambang Tandus Jadi Arboretum Hijau

"Hadirnya Unit Segregation Plant tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memungkinkan kami melakukan budi daya maggot. Untuk sementara yang mengambil (maggot adalah) tim nursery karena bank sampah belum sanggup mengelolanya," tutur Hery.

Ia melanjutkan, perusahaan tengah berencana mengembangkan fasilitas lebih lanjut. Salah satunya, pengadaan oven untuk mengolah maggot menjadi pelet siap konsumsi. Produk pelet nantinya juga akan didonasikan kepada bank sampah komunitas sebagai nilai tambah bagi masyarakat.

Edukasi pemilahan di sumber

Keberhasilan segregasi bergantung pada kesadaran masyarakat sejak di rumah. Karena itu, Vale meluncurkan program “Emberisasi”, yaitu kebijakan yang mewajibkan karyawan memilah sampah rumah tangga mereka menggunakan wadah terpisah.

Program itu mulai diterapkan pada akhir 2024 di sekitar 100 unit rumah karyawan. Dengan memilah dari sumbernya, pengolahan di fasilitas segregasi menjadi lebih cepat dan efisien.

Baca juga: Cerita Tabarano, Desa Kering di Wasuponda yang Disulap Jadi Agrowisata

Di perumahan Vale, setiap rumah sudah memiliki tempat sampah dengan warna berbeda, seperti hijau untuk organik, biru untuk anorganik, dan kuning untuk residu.

“Kalau di kompleks karyawan, mereka sudah rutin memilah sendiri. Jadi, ketika sampai di sini, kami tidak perlu memilah ulang,” tutur Hery.

Sementara di komunitas masyarakat, Hery menilai, kesadaran pemilahan masih terus ditingkatkan melalui edukasi yang melibatkan pemerintah desa.

Kehadiran Segregation Plant merupakan bagian dari visi besar PT Vale menuju “Zero Waste to Landfill” pada 2050. Melalui penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R), perusahaan berupaya mengurangi secara signifikan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

Baca juga: Merawat Ekosistem Pesisir Malili lewat Transplantasi Karang dan Restorasi Mangrove

Semua inisiatif tersebut terintegrasi dalam strategi pengelolaan sampah berbasis sirkular ekonomi. Material yang masih bernilai dikembalikan ke rantai produksi melalui bank sampah, sementara yang tidak bernilai ekonomis diolah menjadi produk bermanfaat lain.

Kehadiran Segregation Plant PT Vale Indonesia juga menjadi bukti bahwa industri tambang dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab lingkungan. Di tempat ini, limbah bukan lagi beban, melainkan sumber daya yang memberi manfaat bagi masyarakat dan bumi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Banjir Sumatera, KLH Setop Operasional 3 Perusahaan untuk Sementara
Banjir Sumatera, KLH Setop Operasional 3 Perusahaan untuk Sementara
Pemerintah
Berkomitmen Sejahterakan Umat, BSI Maslahat Raih 2 Penghargaan Zakat Award 2025
Berkomitmen Sejahterakan Umat, BSI Maslahat Raih 2 Penghargaan Zakat Award 2025
BUMN
Veronica Tan Bongkar Penyebab Pekerja Migran Masih Rentan TPPO
Veronica Tan Bongkar Penyebab Pekerja Migran Masih Rentan TPPO
Pemerintah
Mengapa Sumatera Barat Terdampak Siklon Tropis Senyar Meski Jauh? Ini Penjelasan Pakar
Mengapa Sumatera Barat Terdampak Siklon Tropis Senyar Meski Jauh? Ini Penjelasan Pakar
LSM/Figur
Ambisi Indonesia Punya Geopark Terbanyak di Dunia, Bisa Cegah Banjir Terulang
Ambisi Indonesia Punya Geopark Terbanyak di Dunia, Bisa Cegah Banjir Terulang
Pemerintah
Saat Hutan Hilang, SDGs Tak Lagi Relevan
Saat Hutan Hilang, SDGs Tak Lagi Relevan
Pemerintah
Ekspansi Sawit Picu Banjir Sumatera, Mandatori B50 Perlu Dikaji Ulang
Ekspansi Sawit Picu Banjir Sumatera, Mandatori B50 Perlu Dikaji Ulang
LSM/Figur
SBTi Rilis Peta Jalan untuk Industri Kimia Global
SBTi Rilis Peta Jalan untuk Industri Kimia Global
Pemerintah
Bukan Murka Alam: Melacak Jejak Ecological Tech Crime di Balik Tenggelamnya Sumatra
Bukan Murka Alam: Melacak Jejak Ecological Tech Crime di Balik Tenggelamnya Sumatra
Pemerintah
Agroforestri Sawit: Jalan Tengah di Tengah Ancaman Banjir dan Krisis Ekosistem
Agroforestri Sawit: Jalan Tengah di Tengah Ancaman Banjir dan Krisis Ekosistem
Pemerintah
Survei FTSE Russell: Risiko Iklim Jadi Kekhawatiran Mayoritas Investor
Survei FTSE Russell: Risiko Iklim Jadi Kekhawatiran Mayoritas Investor
Swasta
Tuntaskan Program KMG-SMK, BNET Academy Dorong Penguatan Kompetensi Guru Vokasi
Tuntaskan Program KMG-SMK, BNET Academy Dorong Penguatan Kompetensi Guru Vokasi
Swasta
Harapan Baru, Peneliti Temukan Cara Hutan Tropis Beradaptasi dengan Iklim
Harapan Baru, Peneliti Temukan Cara Hutan Tropis Beradaptasi dengan Iklim
Pemerintah
Jutaan Hektare Lahan Sawit di Sumatera Berada di Wilayah yang Tak Layak untuk Monokultur
Jutaan Hektare Lahan Sawit di Sumatera Berada di Wilayah yang Tak Layak untuk Monokultur
LSM/Figur
Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar
Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau