Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bencana Sumatera, BRIN Soroti Mitigasi Lemah Saat Siklon Senyar Terjadi

Kompas.com, 10 Desember 2025, 20:35 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti lemahnya mitigasi yang memperparah dampak siklon senyar (siklon tropis senyar) sehingga memicu bencana banjir di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat.

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Cuaca Ekstrem BRIN, Erma Yulihastin mengatakan, aplikasi Sadewa milik BRIN telah mendeteksi siklon tersebut pada Rabu (19/11/2025). Sementara itu, Zoom Earth menelusuri bibit siklon 95B telah terlihat sejak Jumat (21/11/2025).

Baca juga: 

"Saya katakan kita punya SDM (sumber daya manusia), kita punya sumber daya teknologi di sini yang bisa membantu, karena sebenarnya problem (masalah) kita itu di mitigasi kan. Apa yang terjadi sekarang adalah proses mitigasi yang tidak berjalan dengan baik," kata Erma dalam webinar, Selasa (9/12/2025).

Informasi ilmiah BRIN tak dilanjutkan dengan mitigasi dini

Foto udara kayu gelondongan yang terbawa arus banjir di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Aceh, Jumat (5/12/2025). Kayu gelondongan tersebut menumpuk di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Arakundo pasca diterjang banjir bandang pada Rabu (26/11) yang menimpa puluhan rumah warga di desa setempat. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas Foto udara kayu gelondongan yang terbawa arus banjir di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Aceh, Jumat (5/12/2025). Kayu gelondongan tersebut menumpuk di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Arakundo pasca diterjang banjir bandang pada Rabu (26/11) yang menimpa puluhan rumah warga di desa setempat.

Permasalahan utamanya adalah informasi ilmiah ini tidak diterjemahkan menjadi aksi mitigasi dini.

BRIN mencatat pola atmosfer kala itu menunjukkan kombinasi berbahaya yakni cold surge, westerly burst, suhu muka laut yang hangat, dan gelombang Rossby, memperkuat pusaran angin siklon senyar. Dampaknya pun langsung terasa di sejumlah wilayah.

"Kita bisa lihat bahwa ketika terjadi badai tropis pada tanggal 20 sudah ada beberapa wilayah yang terkena efek dari pembelokan angin atau penguatan angin. Makanya Tapanuli Tengah, Tapanuli sampai dengan Padang Sidempuan terkena, karena ini area yang setiap hari terkena efek dari angin kencang disertai hujan," jelas Erma.

Erma menyampaikan, peneliti BRIN mengembangkan dua sistem prediksi cuaca, antara lain Sadewa untuk prakiraan jangka pendek dan Kamajaya untuk prakiraan bulanan.

Keduanya berbasis model yang sama, dan terbukti mampu menangkap potensi cuaca ekstrem jauh sebelum kejadian.

Kamajaya bahkan dapat mendeteksi potensi pusaran badai satu sampai dua bulan sebelum siklon senyar melintas, serta memantau enam bulan sebelum terbentuknya siklon seroja pada 2021.

"Apabila ini diintegrasikan, ini akan menjadi tools (alat) yang powerful (kuat) yang bisa membantu dalam hal mitigasi," ucap Erma.

Baca juga: 

Petugas mengoperasikan eskavator untuk membersihkan jalan akses antardesa dari batang-batang kayu gelondongan pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (7/12/2025). Bareskrim ungkap illegal logging di hulu Sungai Tamiang rusak hutan lindung yang diduga sebabkan banjir. Ketahui apa hutan lindung dan fungsinya.ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso/app/nz Petugas mengoperasikan eskavator untuk membersihkan jalan akses antardesa dari batang-batang kayu gelondongan pascabanjir bandang di Desa Tanjung Karang, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (7/12/2025). Bareskrim ungkap illegal logging di hulu Sungai Tamiang rusak hutan lindung yang diduga sebabkan banjir. Ketahui apa hutan lindung dan fungsinya.

Selain siklon senyar, Indonesia juga sempat mengalami siklon seroja pada tahun 2020 lalu. Sistem Sadewa pun mendeteksi sejak tiga hari sebelum badai menerjang.

"Jadi ini sebenarnya saling melengkapi. Kamajaya memberikan panduan beberapa bulan mendatang, Sadewa memberikan panduan beberapa hari mendatang karena modelnya per jam," kata Erma.

Di sisi lain, ia menekankan perubahan iklim memicu cuaca ekstrem dan kenaikan suhu global di atas 1,5 derajat celsius.

BRIN memproyeksikan, hingga tahun 2040, wilayah Sumatera akan mengalami peningkatan curah hujan intens dan angin kencang.

"Kalau kedua komponen ini muncul bersamaan, biasanya berkaitan dengan badai tropis. Yang kita bahas itu adalah banyak fenomena dalam cuaca ekstrem, tetapi fokus kita adalah sesuatu yang efeknya fatalistik," tutur dia.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Pemerintah
 IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
LSM/Figur
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Swasta
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
LSM/Figur
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Pemerintah
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Pemerintah
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Swasta
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
Pemerintah
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Pemerintah
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
LSM/Figur
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
LSM/Figur
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
Pemerintah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
BUMN
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau