Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kalimantan dan Sumatera Jadi Pusat Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 25 Tahun Terakhir

Kompas.com, 16 Desember 2025, 19:35 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kalimantan dan Sumatera menjadi pusat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam 25 tahun terakhir, menurut laporan MapBiomas Fire Koleksi 2.0.

Koordinator Teknis MapBiomas Fire Indonesia, Sesilia Maharani Putri mencatat puncak kebakaran sejak 2000-2024 terjadi pada tahun 2014, 2015, dan 2019 dengan total area terbakar tahunan mencapai 19,6 juta hektar. Laporan itu merujuk pada citra satelit Landsat 5,7, dan 8.

Baca juga: 

"(Kebakaran hutan) 2014 dan 2015 ini jelas karena ada El Nino yang parah, 2019 juga walaupun El Nino-nya saya rasa tidak separah itu tetapi dia luas kebakarannya juga sangat tinggi. Tahun 2024 kebakaran kita cenderung turun," kata Sesilia dalam webinar yang ditayangkan Auriga Nusantara, Selasa (16/12/2025).

61 persen karhutla terjadi September-November

Area yang terbakar erat kaitannya dengan aktivitas manusia

Penampakan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi Menara Pandang Tele, Desa Partungko Naginjang, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Rabu (2/7/2025). Kalimantan dan Sumatera jadi pusat kebakaran hutan dan lahan dalam 25 tahun terakhir karena aktivitas manusia hingga pembukaan lahan pemilik konsesi. Dok DLHK Sumut Penampakan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terjadi Menara Pandang Tele, Desa Partungko Naginjang, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Rabu (2/7/2025). Kalimantan dan Sumatera jadi pusat kebakaran hutan dan lahan dalam 25 tahun terakhir karena aktivitas manusia hingga pembukaan lahan pemilik konsesi.

Dia merincikan, selama 25 tahun ke belakang, kebakaran terbesar melanda Kalimantan pada tahun 2015 dengan total lahan seluas 723.961 hektar. 

Pada periode yang sama, karhutla besar terjadi di Papua dengan luas mencapai 448.981 hektar.

Data menunjukkan 61 persen karhutla terjadi antara September hingga November. Sementara itu, secara tren, kejadian itu kerap terjadi sejak Agustus dengan puncaknya di Oktober.

"Sentra kebakaran ada di Kalimantan dan Sumatera, kalau dilihat lagi lebih rincinya ternyata area-area di Kalimantan dan Sumatera erat kaitannya dengan area yang kebakaran yang bersinggungan dengan area yang terjadi aktivitas manusia," jelas Sesilia.

Aktivitas tersebut antara lain pembukaan lahan, kebakaran di perkebunan sawit, kebun kayu, dan area pertanian.

Baca juga:

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sifatnya berulang

Mayoritas terjadi di kawasan hutan yang harusnya dijaga

Kalimantan dan Sumatera jadi pusat kebakaran hutan dan lahan dalam 25 tahun terakhir karena aktivitas manusia hingga pembukaan lahan pemilik konsesi. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Kalimantan dan Sumatera jadi pusat kebakaran hutan dan lahan dalam 25 tahun terakhir karena aktivitas manusia hingga pembukaan lahan pemilik konsesi.

Kebakaran hutan di Indonesia juga bersifat berulang. Setidaknya, empat juta hektar hutan dan lahan terbakar lebih dari sekali sepanjang periode tersebut.

Sesilia menyampaikan, 3,8 juta hektar kebakaran terjadi di gambut atau 40 persen dari total luas karhutla di Indonesia. Sebanyak 97 persen kebakaran lahan gambut berada di Kalimantan dan Sumatera.

"Ternyata, lebih dari separuh kebakaran terjadi di dalam kawasan hutan yang harusnya kawasan hutan dijaga. Mayoritasnya itu terjadi di hutan produksi, kemudian disusul kawasan konservasi yang seharusnya tingkat penjagaannya lebih ketat dibandingkan wilayah-wilayah lain," jelas Sesilia.

Setidaknya, 500.000-an hektar area konservasi seperti taman nasional mengalami kebakaran.

Analisis lebih lanjut menunjukkan, 35 persen kebakaran di Indonesia atau sekitar tiga juta hektar terdeteksi berada di dalam kawasan konsesi pertambangan, izin usaha pemanfaatan hutan (PBPH), dan perkebunan sawit.

Dari jumlah tersebut, 93 persen kebakaran dalam konsesi terjadi di Kalimantan dan Sumatera.

"Kalau kita lihat secara tutupan lahan, hanya 1,2 persen kebakaran terjadi di formasi hutan. Artinya kehilangan tutupan hutan sebenarnya punya risiko untuk meningkatkan tingkat keparahan kebakaran," papar Sesilia.

Ia berharap, MapBiomas Fire Koleksi 2.0 dapat menjadi alat penting untuk analisis historis kebakaran, sekaligus mendukung upaya mitigasi, identifikasi wilayah rawan, serta pencegahan karhutla lebih dini serta tepat sasaran.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Teknologi Pendinginan Pasif Penting untuk Adaptasi Perubahan Iklim
Teknologi Pendinginan Pasif Penting untuk Adaptasi Perubahan Iklim
LSM/Figur
Air Daur Ulang Berpotensi Bantu Kota Hadapi Gelombang Panas Akibat Perubahan Iklim
Air Daur Ulang Berpotensi Bantu Kota Hadapi Gelombang Panas Akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Hilirisasi Nikel Dinilai Pangkas Jejak Karbon, tetapi Manfaatnya Belum Masuk Perhitungan
Hilirisasi Nikel Dinilai Pangkas Jejak Karbon, tetapi Manfaatnya Belum Masuk Perhitungan
Swasta
Dampak Perubahan Iklim Turut Kurangi Hak Anak di Sejumlah Daerah Indonesia
Dampak Perubahan Iklim Turut Kurangi Hak Anak di Sejumlah Daerah Indonesia
LSM/Figur
Menentukan Strategi Pembangunan Global setelah Agenda SDGs 2030
Menentukan Strategi Pembangunan Global setelah Agenda SDGs 2030
Pemerintah
Aspirasi Anak Lebih Mudah Diakomodasi di Desa Dibandingkan Perkotaan
Aspirasi Anak Lebih Mudah Diakomodasi di Desa Dibandingkan Perkotaan
LSM/Figur
Lawan Serbuan Batik Tiruan, APPBI Gelar Puspa Nuswantara 2026 di JICC
Lawan Serbuan Batik Tiruan, APPBI Gelar Puspa Nuswantara 2026 di JICC
LSM/Figur
Ekspansi Industri Nikel Gerus Lahan Pertanian dan Kampung Nelayan di Morowali
Ekspansi Industri Nikel Gerus Lahan Pertanian dan Kampung Nelayan di Morowali
LSM/Figur
HUT ke-46 Dekranas Dorong Pengrajin Lokal Tembus Pasar Global dengan Produk Ramah Lingkungan
HUT ke-46 Dekranas Dorong Pengrajin Lokal Tembus Pasar Global dengan Produk Ramah Lingkungan
Pemerintah
Ubah Paradigma Pamong, Program KDMK Dorong Kepala Desa Jadi Lokomotif Perubahan
Ubah Paradigma Pamong, Program KDMK Dorong Kepala Desa Jadi Lokomotif Perubahan
Pemerintah
Atasi Polusi Udara Akut, New Delhi Umumkan Kebijakan EV Terbaru
Atasi Polusi Udara Akut, New Delhi Umumkan Kebijakan EV Terbaru
Pemerintah
ICM Kelola 10 Juta Liter Air Limbah Per Hari dari 35 Kawasan Properti
ICM Kelola 10 Juta Liter Air Limbah Per Hari dari 35 Kawasan Properti
Swasta
Bumi Kian Mendidih dan Seruan Laudato Si' yang Terus Ditunda
Bumi Kian Mendidih dan Seruan Laudato Si' yang Terus Ditunda
Pemerintah
“First Family Photo”, Pelukan Emosional Fujifilm bagi Anak Panti
“First Family Photo”, Pelukan Emosional Fujifilm bagi Anak Panti
BrandzView
Mandatori B50 Berlaku, KAI Pastikan Seluruh Lokomotif dan Sarana Diesel Siap Beroperasi
Mandatori B50 Berlaku, KAI Pastikan Seluruh Lokomotif dan Sarana Diesel Siap Beroperasi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau