KOMPAS.com - Masyarakat di negara berkembang masih ada yang membakar plastik untuk memasak di rumah, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications.
Peneliti menyurvei lebih dari 1.000 responden di 26 negara berpenghasilan rendah dan menengah di Asia, Afrika, serta Amerika Latin. Mereka mencatat, satu dari tiga responden mengaku mengetahui rumah tangga yang membakar plastik, sedangkan 16 persen lainnya mengatakan mereka sendiri pernah membakar plastik.
Baca juga:
“Ketika keluarga tidak mampu membeli bahan bakar yang lebih bersih dan tidak memiliki layanan pengumpulan sampah yang andal, plastik menjadi gangguan sekaligus sumber energi pilihan terakhir," kata penulis utama studi, Bishal Bharadwaj, dilansir dari The Guardian, Jumat (9/1/2026).
Tim peneliti menemukan bukti bahwa banyak masyarakat membakar kantong plastik, kemasan plastik, ataupun botol hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dasar.
“Praktik ini jauh lebih meluas daripada yang disadari siapa pun, tapi karena terjadi di komunitas yang terpinggirkan dan sering kali tersembunyi, praktik ini luput dari perhatian global," imbuh Bharadwaj.
Di sisi lain, peneliti melaporkan pembakaran plastik tidak hanya disebabkan kesulitan mendapatkan sumber energi, tapi juga hasil dari tingkat pengelolaan limbah yang buruk.
Direktur Curtin Institute for Energy Transition di Perth sekaligus penulis studi, Peta Ashworth menyebut fenomena itu sebagai dampak gabungan berbagai masalah.
“Sebagian alasannya adalah karena orang-orang ini lebih rentan dan mereka tidak memiliki dana untuk membeli bahan bakar masak yang bersih,” ucap Ashworth.
Selain itu, meningkatnya polusi plastik dan pembuangan sampah yang tidak memadai juga menjadi faktor penyebabnya.
Ashworth mendesak pemerintah meningkatkan program pengelolaan limbah serta akses ke metode memasak bersih, melalui subsidi ataupun intervensi lainnya.
Terlebih, data dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menyatakan, limbah plastik global diproyeksikan bakal melonjak hampir tiga kali lipat pada 2060.
Baca juga:
Studi menemukan bahwa masih banyak masyarakat di negara berkembang yang membakar plastik untuk memasak. Apa dampaknya?Penelitian menunjukkan, rumah tangga kerap menggunakan kompor sederhana seperti tungku tiga batu, kompor arang, ataupun pembakar darurat untuk membakar plastik, yang menghasilkan asap beracun ke area sekitarnya.
Dilansir dari Phys.org, Profesor Western Australian School of Mines (WASM) Curtin, Hari Vuthaluru menuturkan, pembakaran material seperti plastik campuran dan polivinil klorida (PVC) menyebabkan risiko serius dari emisi beracun.
Perempuan, anak, lanjut usia, dan penyandang disabilitas menjadi kelompok yang paling rentan terpapar.
Ketika PVC dibakar, jelas Vuthaluru, melepaskan dioksin dan furan yang termasuk polutan paling berbahaya.
Baca juga: Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
"Senyawa-senyawa ini bertahan di lingkungan, menumpuk dalam rantai makanan dan dapat menyebabkan masalah kesehatan serius, termasuk kanker, gangguan reproduksi, dan kerusakan sistem kekebalan tubuh. PVC menempati peringkat ketiga sebagai plastik yang paling sering dibakar, yang sangat mengkhawatirkan," terang Vuthaluru.
Peneliti pendamping, Pramesh Dhungana menyampaikan, risetnya menunjukkan 60 persen responden menyetujui bahan kimia beracun dari pembakaran plastik bisa mencemari makanan ataupun minuman.
Studi di dekat lokasi pembakaran plastik membuktikan adanya senyawa beracun dalam sampel telur dan tanah.
"Ketika plastik terbakar di dekat rumah dan area persiapan makanan, racun ini dapat menempel pada tanaman, masuk ke sumber air, dan menumpuk dalam makanan, menciptakan krisis kesehatan tersembunyi bagi masyarakat yang sudah menghadapi tantangan signifikan," jelas Dhungana.
Baca juga: Limbah Plastik Diprediksi Capai 280 Juta Metrik Ton Tahun 2040, Apa Dampaknya?
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya