Menurut Dewi, politik konsesi yang menciptakan monopoli lahan sebagai biang kerok banjir Sumatera. Pemberian konsesi secara terus menerus mendorong merosotnya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup (D3TLH) di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
KPA mengidentifikasi 673 perusahaan yang menguasai area konsensi seluas 2,1 juta hektar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Rinciannya, sebanyak 27 perusahaan kehutanan, 323 perusahaan pertambangan, serta 323 perusahaan perkebunan, terutama kelapa sawit.
"Bukan hanya perusahaan-perusahaan yang sedang diidentifikasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kemudian oleh Satgas PKH, Pertanian, dan Polri, tapi juga perlu dilihat 673 konsesi perusahaan ini. Jangan-jangan mereka juga merupaan konsesi-konsesi yang harus segera dievaluasi," ucapnya.
Selain memitigasi dampak bencana ke depannya, kata dia, perlu untuk mengevaluasi proses penerbitan berbagai konsensi, terutama yang erat kaitannya dengan konflik agraria saat ini.
Baca juga:
Pembersihan sisa lumpur bekas banjir di Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia, Kabupaten Tamiang.Sebelumnya, Guru Besar Ilmu Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), Muhammad Basyuni menilai, siklon tropis senyar hanya pemicu dari banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Sementara itu, penghilangan tutupan hutan atau deforestasi dan kegagalan tata ruang menjadi faktor amplifikasi atau penyebabnya, yang mengubah pemicu menjadi bencana besar.
Kata dia, kalau hutan di dalam daerah aliran sungai (DAS) kawasan bencana Sumatera sudah melampaui titik kritis dan belum ada upaya pemulihan, ke depannya curah hujan ekstrem akibat siklon tropis akan kembali menyebabkan banjir bandang.
"Kalau hulunya (hutan dalam DAS) tidak diperbaiki, nanti jika terjadi siklon baru, ada cuaca ekstrem, maka akan terjadi yang seperti ini (banjir bandang), bahkan (bisa) lebih parah lagi, ketika hulunya tidak dipulihkan," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya