Penulis
Ray juga mengungkap adanya respons atmosfer yang tidak simetris terhadap sumber panas.
Sumber panas, seperti di Kalimantan atau Sumatera, dapat memengaruhi daerah yang jauh ke arah timur.
"Sumber panas di Kalimantan atau Sumatera dapat memengaruhi wilayah yang jauh ke arah timur, termasuk Papua Nugini. Sementara, pengaruh sebaliknya relatif lebih lemah," kata Ray.
Temuan ini disebut menantang teori klasik tentang respons sirkulasi atmosfer tropis.
Selama ini, teori lama menganggap bahwa hanya sumber panas berskala besar yang mampu memengaruhi atmosfer secara luas.
Namun, hasil model menunjukkan bahwa sumber panas berskala lebih kecil tetap dapat memberi dampak signifikan.
Topografi juga terbukti berpengaruh terhadap siklus harian hujan. Pengaruh ini paling kuat terjadi di wilayah dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Baca juga:
Ray menekankan pentingnya representasi topografi yang akurat dalam model iklim. Bias simulasi presipitasi di daratan dapat merambat dan memengaruhi hasil simulasi di wilayah laut.
Kesalahan kecil dalam menggambarkan daratan dapat menghasilkan kesalahan besar dalam prediksi hujan.
Selain topografi, MJO memiliki pengaruh yang sangat kompleks terhadap curah hujan di Indonesia. Fenomena ini telah lama menjadi perhatian peneliti dunia.
Alasannya jelas. Wilayah Benua Maritim Indonesia memiliki peran besar dalam mengatur sirkulasi atmosfer global.
"Memahami bagaimana MJO memengaruhi cuaca di Indonesia sangat berguna, terutama untuk meningkatkan akurasi prediksi cuaca ekstrem yang berdampak pada bencana hidrometeologis di Indonesia, seperti banjir, longsor, dan lain sebagainya," jelas dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya