JAKARTA, KOMPAS.com - Produktivitas perkebunan di Indonesia untuk menghasilkan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) disebut cenderung lebih rendah dibanding Malaysia.
"Nah, harapan kami produktivitas sawit kita ini akan semakin meningkat. Saat ini memang kita masih di bawah Malaysia ya dari sisi produktivitas, tapi dari sisi luas lahan, dari sisi jumlah hasil produksinya memang Indonesia adalah yang terbesar di dunia," ujar Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan, dan Manajemen Risiko BPDP, Zaid Burhan Ibrahim dalam media briefing Sawit Indonesia; Jalan di Tempat atau Terus Maju ke Depan di Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).
Baca juga:
Berdasarkan data Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPBD), produktivitas perkebunan kelapa sawit di Indonesia tahun 2025 sebesar 3,61 metrik ton per hektar per tahun.
Sementara itu, produktivitas perkebunan kelapa sawit di Malaysia mencapai 4,02 metrik ton per hektar per tahun.
Tahun 2024, produktivitas perkebunan kelapa sawit di Indonesia sebesar 3,53 metrik ton per hektar per tahun. Namun, produktivitas perkebunan kelapa sawit di Malaysia mencapai 3,82 metrik ton per hektar per tahun.
Kemudian, produktivitas perkebunan kelapa sawit di Indonesia tahun 2023 sebesar 3,63 metrik ton per hektar per tahun. Jumlahnya juga masih kalah dengan produktivitas perkebunan kelapa sawit di Malaysia dengan 3,68 metrik ton per hektar per tahun.
Padahal, dari aspek produksi dan luas lahan dari tanaman telah menghasilkan, Indonesia disebut unggul jauh dari Malaysia.
Misalnya, produksi kelapa sawit di Indonesia tahun 2025 mencapai 46,55 juta metrik ton, dengan total luasan lahan 12,90 juta hektar. Di sisi lain, produksi kelapa sawit di Malaysia mencapai 20,28 juta metrik ton, dengan total luasan lahan 5,04 juta hektar.
Baca juga:
Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan, dan Manajemen Risiko BPDP, Zaid Burhan Ibrahim (tengah) dan Direktur Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung (kanan), dalam media briefing Sawit Indonesia; Jalan di Tempat atau Terus Maju ke Depan di Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).Menurut Zaid, tantangan peningkatan produktivitas perlu ditanggapi sebagai peluang dan refleksi untuk penguatan tata kelola industri kelapa sawit di Indonesia.
Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, data periode tahun 1995-2024 menunjukkan, perluasan lahan untuk perkebunan kelapa sawit tidak sepenuhnya mendukung kenaikan produksi CPO.
Dengan luasan lahan yang lebih tinggi daripada Malaysia, Indonesia semestinya masih berpotensi meningkatkan produktivitasnya.
BPDP hanya berperan mendukung peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat, dengan luas lahan 42 persen pada 2024. Sisanya, 54 persen perkebunan kelapa sawit swasta dan empat persen milik negara.
Namun, produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat tahun 2024 hanya 2,5 ton CPO per hektar.
Sementara itu, produktivitas perkebunan kelapa sawit swasta sebesar 3,3 ton CPO per hektar dan yang milik negara 4,0 ton CPO per hektar.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya