Pemerintah Indonesia mendorong peningkatan produktivitas perkebunan rakyat agar mampu mencapai minimal tiga juta ton per hektar.
Peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat dilakukan dalam beberapa cara. Pertama, peremajaan kelapa sawit dilaukan dengan mengganti tanaman yang sudah tidak produktif dan menanamkan bibit unggul.
"Saya pernah kalau sekarang kalau hasil dari TBS-nya kita kurang lebih di bawah 20 ton per hektar ya. Saya pernah ke Musi Banyuasin, itu yang kebetulan dapat peremajaan sawit rakyat dari BPDP itu panennya itu antara 30 sampai 33 ton per hektar per tahun, kan jauh. Kenapa? Karena dulu mungkin penanaman sawit dengan bibit yang kualitasnya terbatas," tutur Zaid.
Kedua, peningkatan produktivitas dengan memberikan bantuan pupuk, herbisida, bantuan alat, dan perbaikan kualitas jalan kepada perkebunan kelapa sawit rakyat.
Zaid menuturkan, BPDP memberikan pendanaan kurang lebih Rp 60 juta per hektar dalam dua tahap dan maksimal empat hektar per orang, agar petani dapat meremajakan tanaman kelapa sawit di kebunnya.
Ketiga, pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui pemberian pelatihan dan beasiswa sawit bagi para keluarga petani rakyat.
Tahun lalu, menurut Zaid, BPBD memberikan pelatihan kepada lebih dari 11.000 peserta dari unsur petani sawit rakyat. Untuk program beasiswa program D1, D3, D4, dan S1, sudah disalurkan kepada lebih dari 4.000 orang tahun 2023.
Ia berharap anak dari keluarga petani sawit rakyat bisa semakin paham dalam meningkatkan produktivitas usai balik ke kampung halaman dan membantu orang tuannya menggarap kebun.
Selanjutnya, keempat, mendorong riset yang hasilnya diarahkan untuk mendorong peningkatan produktivitas kelapa sawit melalui pengembangan inovasi yang berdampak nyata. BPDP bekerja sama dengan kampus dan para peneliti yang mengkaji kelapa sawit.
Baca juga:
Produktivitas kelapa sawit Indonesia kalah dari Malaysia. Sebab, Malaysia unggul dari aspek varietas bibit kelapa sawit dan praktik terbaik pertanian.Direktur Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung mengatakan, produktivitas Indonesia kalah dari negara tertangga karena Malaysia unggul dari aspek varietas bibit kelapa sawit dan best practice pertanian.
Apalagi, Indonesia tergolong terlambat dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit, jika dibandingkan dengan Malaysia.
Bahkan, Malaysia sudah menjadi produsen CPO terbesar di dunia sejak 2004 dan berlanjut hingga tahun 2006.
Di sisi lain, Indonesia mulai berfokus untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit pada 2026.
Huluisasi atau strategi industrialisasi yang mengolah bahan mentah di Malaysia, dalam hal ini CPO, selangkah lebih dulu ketimbang Indonesia.
"Meskipun Indonesia yang pertama memperkenalkan sawit, Malaysia terlebih dahulu melakukan huluisasi ya. Kita dulu enak menikmati booming minyak bumi, sampai 2004 kita itu tak peduli sawit kita itu seperti apa. Malaysia tahun 2004 sudah juara dunia," ucap Tungkot.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya