Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Diterpa Isu Greenwashing, Perusahaan Diminta Transparan Buka Data Emisi dan Progres ESG

Kompas.com, 21 Februari 2026, 07:10 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perusahaan yang diterpa isu praktik manipulasi untuk menciptakan citra ramah lingkungan secara tidak jujur (greenwashing) semestinya tidak defensif.

Perusahaan dinilai perlu menjawab isu greenwashing dengan langsung melakukan transparansi data. Misalnya, dengan membuka angka emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan, target pengurangan ke depan, serta progres nyata terkini.

Baca juga:

Manajemen penanganan krisis perlu peka dengan permasalahan di balik "serangan" greenwashing terhadap perusahaannya.

"Hindari klaim 'sudah hijau', gunakan narasi transisi dan jelaskan perjalanan perbaikan plus timeline (linimasa) jelas. Selaraskan klaim produk dengan kinerja perusahaan. Jangan kampanye satu produk kalau sistem masih bermasalah," ujar praktisi ESG dan Sustainability, Nor Qomariyah dalam webinar ESG Intelligence: Transformasi Data Menjadi Reputasi Berkelanjutan, Jumat (20/2/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Nor juga mengusulkan untuk menggunakan standar global, verifikasi pihak ketiga, audit indenden, dan assurance data.

Diterpa isu greenwashing, perusahaan diimbau transparan 

Sudut pandang pihak luar lebih baik untuk meningkatkan empati

Perusahaan yang diterpa isu greenwashing diminta tak defensif. Praktisi ESG menyarankan transparansi data emisi GRK, target, hingga audit.BPDP Perusahaan yang diterpa isu greenwashing diminta tak defensif. Praktisi ESG menyarankan transparansi data emisi GRK, target, hingga audit.

Senada, praktisi komunikasi dan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan), Stella Sabrina menilai, sudut pandang dari pihak luar memang lebih bagus untuk meningkatkan empati emosional terhadap masyarakat.

Jika perusahaan yang diterpa isu greenwashing memang tidak jujur, sebaiknya lakukanlah klarifikasi dan membangun ulang strateginya.

Stella mengingatkan bahwa praktik ketidakjujuran yang terungkap ke publik sebenarnya merupakan krisis yang dapat dicegah.

"Maka dari itu penting bagi seluruh perusahaan itu memang menjalankan ESG (Environmental, Social, and Governance)-nya itu harus dengan kejujuran, semua programnya dengan transparan, dengan data. Jadi memang ini termasuk preventable crisis, krisis yang nilainya sangat tinggi dan ini butuh rebuild strategy," jelas Stella.

Baca juga:

Perusahaan takut buka data

Perusahaan yang diterpa isu greenwashing diminta tak defensif. Praktisi ESG menyarankan transparansi data emisi GRK, target, hingga audit. Perusahaan yang diterpa isu greenwashing diminta tak defensif. Praktisi ESG menyarankan transparansi data emisi GRK, target, hingga audit.

Stella mengungkapkan, perusahaan perkebunan kepala sawit sangat ketakutan untuk membuka High Conservation Value (HCV), yang merupakan bagian dari program ESG-nya.

Ketika mengunjungi salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, Stella hanya mendapatkan pemaparan presentasi tentang program-program mereka.

Sebagai akademisi saja, Stella mengaku benar-benar dilarang untuk melihat apa saja satwa langka yang berada di wilayah HCV perusahaan perkebunan kelapa sawit.

"(Seorang dari) level GM (general manager)-nya ngobrol sama saya, 'Maaf ya, saya sebelum ketemu sama Mbak Stella, saya profiling dulu. Jadi, kami enggak bisa menerima Mbak Stella ke tempat HCV kami untuk melihat orang utan di sana'. Katanya gitu. 'Kenapa Pak?', 'Ya kami ada ketakutan lah'," cerita Stella. 

"Ketika saya telusuri investigasi dengan beberapa teman-teman yang memang sudah bekerja sama dengan perusahaan itu, perusahaan takut nanti, ilmuwan seperti NGO-NGO (organisasi nirlaba) lainnya, nanti menemukan satu hal gitu nanti diberitakan aneh-aneh gitu. Nah, itulah yang terjadi gitu," tambah dia.

Semestinya, perusahaan jujur jika sudah menjalankan program ESG dan membanggakannya.

Namun, kenyataanya, Stella tidak diperbolehkan menyaksikan koridor orang utan di wilayah konsesi perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Imbasnya, ada atau tidaknya praktik greenwashing menjadi samar-samar. Ia menganggap ketakutan perusahaan justru berpotensi dieksploitasi oleh pihak-pihak tertentu. Oleh karena itu, sebaiknya perusahaan berani membuka data ESG-nya.

"Itu bukan defensi, itu menampilkan secara fakta, bukan defensif. Bicara dengan edukasi. Nanti, untuk narasinya bukan defensif, tapi untuk mengedukasi gitu supaya tidak terlihat bahwa si perusahaan itu defensif terhadap isu yang beredar," ucap Stella.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau