Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi

Kompas.com, 4 Maret 2026, 13:54 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Produksi film dan televisi ternyata bisa boros sumber daya dan menghasilkan emisi karbon yang jarang terlihat.

Organisasi industri perfilman, BAFTA Albert mengumpulkan data sukarela dari lebih dari 2.500 produksi film di Inggris selama dua tahun terakhir.

Baca juga: 

Hasilnya, sekitar 65 persen dari jejak karbon produksi film di Inggris berasal dari perjalanan dan transportasi, sedangkan 21 persen lainnya berasal dari penggunaan energi.

Sebagai gambaran, jika sebuah film blockbuster dari Amerika Serikat rata-rata menghasilkan 3.370 ton emisi karbon dioksida (CO2) maka sekitar 2.560 ton di antaranya berasal dari perjalanan, transportasi, dan penggunaan energi.

Jumlah emisi tersebut setara dengan satu mobil yang melaju mengelilingi dunia sebanyak 335 kali, dilansir dari Phys.org, Rabu (4/3/2026).

Dengan demikian, seseorang bisa melacak penggunaan bahan bakar dan energi produksi dalam satuan kilowatt-jam (kWh) dan liter, lalu mengubahnya menjadi angka emisi CO2 menggunakan standar perhitungan yang sudah diakui.

Industri perfilman dan TV bisa hasilkan emisi karbon

Menghitung karbon dalam proses kreatif

Data mengungkap produksi film dan TV bisa hasilkan emisi karbon besar. Sekitar 65 persen jejak karbon berasal dari perjalanan dan transportasi.SHUTTERSTOCK Data mengungkap produksi film dan TV bisa hasilkan emisi karbon besar. Sekitar 65 persen jejak karbon berasal dari perjalanan dan transportasi.

Tantangannya adalah, menghitung "karbon terkandung" dalam material yang digunakan selama proses kreatif jauh lebih rumit untuk diukur.

Untuk melakukan hal ini, diperlukan data siklus hidup yang mendetail. Namun, pembuat film sering kali tidak memiliki waktu atau sistem yang memadai untuk melacak data tersebut secara menyeluruh.

Namun, jumlahnya sangat besar. Laporan BAFTA misalnya, memperkirakan sekitar 800.000 ton material dari produksi film di Inggris dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

Departemen seni, yang bertugas menciptakan dunia fisik dalam cerita, sering kali menjadi penyumbang terbesar dari sampah tersebut secara keseluruhan.

Tim konstruksi departemen seni biasanya membangun dan menata set khusus yang membuat naskah cerita menjadi terlihat nyata.

Para seniman atau kru lainnya kemudian menyelesaikan set ini menggunakan berbagai macam bahan untuk menciptakan warna dan tekstur sinematik.

Para pekerja seni ini terkadang melakukan pembelian properti menggunakan toko daring sehingga makin meningkatkan jejak karbon.

Selanjutnya, keterbatasan anggaran dan jadwal, kekhawatiran terkait hak kekayaan intelektual, spesifikasi desain, dan biaya penyimpanan yang mahal sering kali menyebabkan barang-barang tersebut berakhir di tempat pembuangan sampah setelah proses syuting selesai.

Departemen ini sebenarnya bisa mengurangi material dan limbah dengan mengadopsi kerangka kerja pengambilan keputusan hierarkis yang berlandaskan prinsip ekonomi sirkular.

Contohnya dengan menyewa properti, memilih properti syuting lokal atau bekas, dan memiliki sertifikasi produk ramah lingkungan serta memiliki kualitas yang cukup untuk digunakan kembali setelah syuting.

Baca juga: 

Film yang ramah lingkungan

Data mengungkap produksi film dan TV bisa hasilkan emisi karbon besar. Sekitar 65 persen jejak karbon berasal dari perjalanan dan transportasi.freepik Data mengungkap produksi film dan TV bisa hasilkan emisi karbon besar. Sekitar 65 persen jejak karbon berasal dari perjalanan dan transportasi.

Industri ini juga bisa mencegah emisi dengan menggunakan kendaraan listrik, listrik terbarukan, bahan bakar hayati, atau lampu LED.

Namun, menerapkan teknologi dan praktik ini di seluruh produksi membutuhkan perubahan pola pikir kepemimpinan.

Penerapan itu harus ditambah dengan komitmen kuat untuk melakukan dekarbonisasi yang didukung oleh anggaran, jadwal kerja, serta investasi yang tepat pada peralatan, keterampilan, dan proses kerja sejak awal. 

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak produser dan distributor konten berskala besar telah menerbitkan pernyataan komitmen keberlanjutan ke publik.

Namun, rencana kerja konkret untuk tindakan nyata dalam jangka waktu dekat masih sangat bervariasi antara satu perusahaan dengan yang lain.

Yang jelas, dengan menerapkan prinsip keberlanjutan ke dalam pembuatan film sejak tahap awal, perubahan nyata bisa mulai terjadi karena urgensi krisis iklim tidak bisa lagi diabaikan.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Belantara Foundation Gandeng Perusahaan Jepang Tanam Pohon di Hutan Riau
Belantara Foundation Gandeng Perusahaan Jepang Tanam Pohon di Hutan Riau
LSM/Figur
Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan
Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan
LSM/Figur
Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Swasta
Pemerintah Perlu Optimalkan Energi Terbarukan di Tengah Kenaikan Harga Pertamax
Pemerintah Perlu Optimalkan Energi Terbarukan di Tengah Kenaikan Harga Pertamax
LSM/Figur
Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik
Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik
LSM/Figur
Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Pemerintah
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Pemerintah
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
LSM/Figur
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
LSM/Figur
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
Pemerintah
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan 'Sanctuary Park'
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan "Sanctuary Park"
Swasta
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
LSM/Figur
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Pemerintah
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
Pemerintah
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau