Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 06/06/2023, 07:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski sudah mengalami kemajuan, pengelolaan sampah di Indonesia masih perlu ditingkatkan.

Pada 2022, setidaknya masih ada sekitar 5,84 juta ton 1 timbulan sampah yang berasal dari rumah tangga baik berupa sampah basah atau organik, dan sampah kering yang tidak terkelola.

Sampah yang menumpuk, tidak dikelola dengan baik dan terbuang ke saluran air menyebabkan penyumbatan saluran air dan menyebabkan bencana banjir. Seperti yang terjadi di Bogor dan Pasuruan 2 pada tahun 2022 yang lalu.

Berkaitan dengan peran pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan sampah, secara khusus Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Sampah Pada Bank Sampah.

Baca juga: Ekonomi Sirkular Jadi Strategi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Dalam Permen ini peran bank sampah adalah melakukan kegiatan pengurangan, penanganan dan pemilahan sampah yang diinisiasi oleh pemerintah daerah bekerja sama dengan anggota masyarakat.

Kepedulian terhadap permasalahan sampah juga membutuhkan dukungan dari para pemangku kepentingan, salah satunya industri.

Selain memikirkan bisnis, industri-industri juga bertanggung jawab terhadap limbah, baik yang dihasilkan dari proses bisnis dan operasional, maupun membantu pemerintah dan masyarakat melalui berbagai cara.

Seperti halnya yang dilakukan oleh PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI), anak usaha SIG yang merupakan perusahaan penyedia solusi bahan bangunan.

SBI melaksanakan Program Sedekah Sampah Bersama (Sesama) dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada Senin, 5 Juni 2023.

Baca juga: Selain Jadi Aspal, Sampah Plastik Pun Bisa Diolah Membentuk Beton

Dalam aksi Sesama yang diadakan serentak di lokasi-lokasi operasional SBI, terkumpul 300 kilogram sampah plastik, 2.006 kilogram sampah kertas, 48 kilogram sampah kaca dan 30 kilogram sampah logam.

Keseluruhan sampah yang terkumpul merupakan hasil housekeeping dan pemilahan sampah dari rumah oleh para karyawan dan karyawan kontraktor di Pabrik Lhoknga, Narogong, Cilacap dan Tuban, serta para karyawan SBI dan karyawan perusahaan lain yang secara khusus berada di satu kawasan dengan Kantor Pusat SBI di Jakarta.

Direktur Manufacturing SBI Soni Asrul Sani mengatakan program ini bertujuan meningkatkan kesadaran karyawan dalam pengelolaan sampah.

“Pemilahan sampah sebenarnya bukan hal baru. Tapi kami ingin mengajak, mengenalkan dan mendekatkan karyawan dengan bank sampah sebagai salah satu cara mengurangi timbulan sampah dari rumah maupun area kerja perusahaan," tutur Soni.

Pelibatan bank sampah dalam kegiatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, juga merupakan bentuk dukungan SBI kepada bank sampah di sekitar area operasional perusahaan.

Baca juga: Ternyata, Sampah Bisa Diubah Jadi Bahan Bakar dan Bahan Baku Alternatif Semen

Soni menambahkan, aksi Sesama ini selaras dengan komitmen SBI untuk mewujudkan lingkungan hidup yang bersih dan layak huni.

Bergerak di bidang produksi bahan bangunan, SBI juga memiliki lini pengelolaan sampah ramah lingkungan yang dikelola oleh unit bisnis Nathabumi.

Melalui Nathabumi, SBI mengelola dan memanfaatkan limbah industri dan sampah perkotaan sebagai bahan bakar alternatif untuk substitusi batu bara.

Hingga akhir tahun 2022, SBI telah berhasil menurunkan 14,5 persen emisi karbon atau setara 585,9 kilogram CO2/ton semen ekivalen berdasarkan baseline 2010, yang diperoleh dari efisiensi energi, pemanfaatan bahan baku dan bahan bakar alternatif, serta energi baru terbarukan dari sistem panel surya dan berbagai inisiatif lainnya.

Baca juga: Cara Mengolah Sampah Organik dengan Biopori, Lubang Penangkal Banjir, Panen Kompos Tanpa Ribet

Berkolaborasi bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan lainnya, SBI juga menginisiasi hadirnya fasilitas pengolahan sampah perkotaan menjadi refuse-derived fuel (RDF) yang pertama di Indonesia.

Berlokasi di Jeruklegi, Cilacap, Jawa Tengah, fasilitas ini mengolah sampah domestik menjadi RDF dengan kapasitas hingga 160 ton sampah per hari, untuk dikonversi menjadi 70 ton RDF.

Penurunan emisi karbon tersebut diperoleh dari berbagai upaya perusahaan dalam mendukung perwujudan pembangunan berkelanjutan, yang berbuah pengakuan PROPER Emas Tahun 2022 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk Pabrik Cilacap, dan PROPER Hijau untuk Pabrik Lhoknga, Narogong dan Tuban.

Ramini, pegiat bank sampah di Merkawang, Tuban, berharap Program Sesama tidak hanya kali ini saja, namun bisa berkelanjutan agar menjadi pemasukan tambahan untuk organisasi bank sampah.

Sampah yang disedekahkan oleh karyawan SBI akan membantu sebagai pemasukan dan bahan untuk anggota bank sampah melakukan pelatihan agar bisa mengelola sampah di lingkungan sekitar dengan lebih baik lagi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com