Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 6 Juli 2023, 14:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com – Pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) adalah teknologi yang mengubah energi angin atau bayu menjadi enegri listrik.

PLTB, bisa juga disebut turbin angin, adalah salah satu teknologi lawas namun terus mengalami inovasi hingga saat ini.

Cara kerja PLTB cukup mudah yaitu potensi energi kinetik angin dimanfaatkan untuk memutar bilah turbin angin menjadi energi mekanik.

Baca juga: Kelebihan dan Kekurangan Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Energi mekanik dari bilah turbin inilah yang diteruskan untuk memutar generator sehingga menghasilkan listrik.

Energi angin yang dimanfaatkan PLTB adalah sumber energi terbarukan yang ketersediannya selalu ada selama Bumi berputar. Operasional PLTB juga tidak menghasilkan emisi sehingga disebut sebagai teknologi yang bersih.

Di tengah ancaman pemanasan global dan perubahan iklim kebutuhan, memaksimalkan pemanfaatan energi terbarukan adalah hal yang tak terelakkan, salah satunya PLTB.

Berbagai negara yang memiliki potensi energi angin melimpah menggenjot instalasi PLTB untuk bertransisi energi ke energi terbarukan.

Dilansir dari Reve, berikut 10 negara dengan kapasitas terpasang PLTB terbanyak di dunia pada 2021.

Baca juga: Potensi Energi Angin di Indonesia, Tersebar Luas di Berbagai Wilayah

10. Swedia

  • Kapasitas terpasang PLTB: 12.080 megawatt (MW)

Swedia menggenjot pembangunan PLTB. Badan Energi Swedia memperkirakan, PLTB di negara tersebut akan meningkat sebesar 70 persen pada 2024.

Swedia sebelumnya telah mengekspor listrik ke tetangga seperti Finlandia. Dan dalam beberapa tahun terakhir, Swedia telah menjadi pengekspor listrik terbesar di Eropa.

Dengan kapasitas angin yang lebih besar, Swedia berpotensi mengekspor lebih banyak energi hijau di masa depan.

9. Kanada

  • Kapasitas terpasang PLTB: 14.304 MW

Seperti Swedia, Kanada juga menggenjot pembangunan PLTB. Banyak proyek PLTB baru di Kanada berada di Negara Bagian Alberta.

Baca juga: 10 Negara dengan PLTA Terbanyak di Dunia

8. Perancis

  • Kapasitas terpasang PLTB: 18.676 MW

Meskipun negara ini dikenal mendapatkan sebagian besar kebutuhan listriknya dari energi nuklir, Perancis juga memiliki kapasitas terpasang PLTB yang cukup besar.

Kapasitas PLTB di Perancis pada 2021 meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2014.

7. Brasil

  • Kapasitas terpasang PLTB: 21.161 MW

Brasil berada di peringkat ketujuh sebagai negara dengan kapasitas terpasang PLTB terbanyak di dunia.

Mengingat negara ini memperluas pembangunan PLTB dengan cepat, sejumlah analis memperkirakan Brasil akan memiliki setidaknya 30.000 MW alias 30 gigawatt (GW) kapasitas terpasang PLTB pada 2024.

Baca juga: 10 Negara dengan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Terbanyak di Dunia, Indonesia Nomor 2

6. Inggris

  • Kapasitas terpasang PLTB: 27.130 MW

Inggris meningkatkan kapasitas terpasang PLTB sebesar 11,1 persen pada 2021. Dari 27.130 MW, sekitar 12.700 MW merupakan PLTB lepas pantai.

Inggris juga telah meningkatkan kapasitas pembangkit PLTB dengan tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 15,2 persen dari 2011 hingga 2021.

5. Spanyol

  • Kapasitas terpasang PLTB: 27.500 MW

PLTB adalah sumber tenaga listrik terbesar di Spanyol. PLTB menyumbang lebih dari 23 persen bauran listrik negara itu.

Dalam hal pembangkit anginnya, Spanyol memiliki sekitar 1.000 ladang angin yang secara kolektif memiliki lebih dari 20.000 turbin angin.

Baca juga: 10 Kota Terbaik Dunia, Surga Pesepeda

4. India

  • Kapasitas terpasang PLTB: 40.067 MW

India berada di peringkat empat dalam daftar negara dengan kapasitas terpasang PLTB terbanyak di dunia.

Mengingat pertumbuhan ekonominya, permintaan listrik di India telah tumbuh secara substansial dalam 10 tahun terakhir.

3. Jerman

  • Kapasitas terpasang PLTB: 63.760 MW

Mengingat ekonominya yang besar dan kemampuan kelas dunia dalam teknologi, pemerintah Jerman memiliki sumber daya untuk meningkatkan produksi anginnya secara substansial.

Pemerintah Jerman juga berambisi bahwa 100 persen sumber tenaga listriknya berasal dai energi terbarukan.

Untuk mencapai target tersebut, Jerman berencanan meningkatkan kapasitas PLTB menjadi 110 GW di darat, dan 30 GW di lepas pantai.

Baca juga: Daftar Negara dengan PLTS Terbanyak, China Juaranya

2. Amerika Serikat (AS)

  • Kapasitas terpasang PLTB: 132.738 MW

AS adalah negara kedua dengan kapasitas terpasang PLTB terbanyak di dunia. Kapasitas terpasang PLTB di AS tumbuh rata-rata sebesar 11,3 persen per tahun dari 2011 hingga 2021.

Setelah beberapa turbin angin baru beroperasi, PLTB menghasilkan lebih dari 9 persen listrik secara nasional termasuk lebih dari 50 persen di Negara Bagian Iowa dan Negara Bagian South Dakota.

1. China

  • Kapasitas terpasang PLTB: 328.973 MW

China menempati peringkat pertama sebagai negara dengan kapasitas terpasang PLTB terbanyak di dunia.

Cina adalah pemimpin dalam PLTB mengingat negara tersebut memiliki kebutuhan energi yang sangat besar karena populasinya yang jombo dan perekonomian terbesar kedua di dunia.

Pemerintah China juga telah menerapkan subsidi untuk meningkatkan energi terbarukan dalam 10 tahun terakhit terakhir untuk menurunkan emisi karbon.

Baca juga: Cara Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Komponennya

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
'Long Service Award', Humanisasi di Tengah Era Transaksional
"Long Service Award", Humanisasi di Tengah Era Transaksional
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau