Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 18 Juli 2023, 14:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com – Menurut International Energy Agency (IEA) dalam World Energy Outlook 2022, umat manusia sedang berada di tengah krisis energi global pertama.

Tarif listrik di seluruh dunia rata-rata melonjak. Penyebab utamanya adalah tingginya harga bakar fosil seperti gas, minyak, dan batu bara.

Fluktuasi harga bahan bakar fosil tersebut membuat dunia sadar bahwa umat manusia masih sangat bergantung kepada sumber daya tak terbarukan, tidak berkelanjutan, dan menghasilkan polusi.

Baca juga: Aspek Lingkungan Dikalahkan Aspek Ekonomi dalam Transisi Energi Indonesia

Menurut IEA, krisis energi saat ini memicu masifnya pengembangan energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) pada 2022.

Diprediksi, PLTS dan PLTB akan terus tumbuh dalam beberapa tahun mendatang. Energi terbarukan akan sangat penting untuk mengurangi polusi, menghasilkan energi bersih, dan mengatasi masalah keamanan energi.

Apalagi, listrik yang dihasilkan dari energi terbarukan akan lebih murah dan terjangkau. Memanfaatkan potensi besar tenaga surya, angin, dan air dapat mempercepat penghematan energi.

Baca juga: Lonjakan Produksi Angin dan Matahari Bikin Harga Energi Turun

Pergeseran investasi

Dunia mulai bergeser untuk berinvestasi ke energi terbarukan. Menurut World Energy Outlook 2022, energi terbarukan diprediksi meningkat hampir dua kali lipat pada 2023.

Menurut laporan IEA lainnya, krisis energi yang dipicu oleh perang Rusia-Ukraina telah mendorong pengembangan energi terbarukan sebesar 40 persen di Eropa pada 2024.

Dukungan kebijakan yang meningkat dan pemasangan yang terjangkau di Jerman, Italia, dan Belanda membuat pemasangan PLTS atap menjadi lebih menguntungkan.

Secara global, sekitar 100 juta rumah tangga diprediksi akan memiliki PLTS atap pada 2030, sebagaimana dilansir Earth.org.

Baca juga: Optimalisasi EBT Dukung Ketahanan Energi Nasional

Sementara itu, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berkontribusi sekitar seperenam dari produksi listrik secara global pada tahun.

Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) offshore. PLTB adalah adalah salah satu sumber energi terbarukan.Shutterstock Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) offshore. PLTB adalah adalah salah satu sumber energi terbarukan.

Meski demikian, produksinya menurun sebesar 0,4 persen pada 2021 karena kekeringan di negara-negara dengan PLTA terbesar seperti Brasil, Amerika Serikat (AS), Turkiye, China , India, dan Kanada, menurut IEA.

Sedangkan produksi listrik dari PLTB mencapai 273 terawatt jam (TWh) pada 2021, naik sebesar 17 persen dibandingkan tahun lalu.

Negara-negara yang terus menggenjot pengembangan PLTB pada 2021 adalah China sebesar 70 persen, AS sebesar 14 persen, dan Brasil sebesar 7 persen.

Pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) juga mengalami peningkatan. AS menjadi negara terbesar dengan kapasitas PLTP terpasang di seluruh dunia.

Baca juga: Percepat Transisi Energi Perlu Kerja Sama Semua Pihak

Kebijakan lintas negara

Untuk mencapai kemandirian energi dan meningkatkan perekonomian, diperlukan kebijakan energi hijau lintas negara.

Rencana bantuan ekonomi juga cukup menjanjikan. Sekitar 108 miliar dollar AS dialokasikan untuk energi bersih dan 470 miliar dollar AS dalam paket stimulus terkait energi oleh masing-masing negara diperkirakan akan diinvestasikan.

IEA memperkirakan, implementasi PLTS dan PLTB akan meningkat signifikan pada 2023 karena adanya peningkatan momentum kebijakan, melonjaknya harga energi fosil, dan kekhawatiran akan ketahanan energi.

Pertumbuhan tersebut diperkirakan akan menyamai output daya listrik gabungan China dan AS, dengan total kapasitas global untuk energi terbarukan mencapai 4.500 gigawatt (GW).

Baca juga: Indonesia Dukung Percepatan Konektivitas Energi di ASEAN

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau