KOMPAS.com - Pembangkit listruk tenaga uap (PLTU) batu bara adalah salah satu sumber emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar.
Selain menghasilkan emisi, PLTU batu bara juga mengeluarkan polutan udara yang berbahaya bagi kesehatan.
Polutan udara yang berbahaya dari PLTU batu bara adalah partikel halus PM2,5, sulfur dioksida, nitrogen oksida, merkuri, dan logam-logam berat lainnya.
Baca juga: Pembatalan Proyek PLTU Batu Bara Dapat Selamatkan 180.000 Jiwa
Menurut penelitian terbaru berjudul "Health Benefits of Just Energy Transition and Coal Phase-out in Indonesia" DARI Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) dan Institute for Essential Services Reform (IESR), sebagian besar PLTU batu bara di Indonesia tidak memiliki teknologi pengendalian polutan udara untuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida.
Hal tersebut membuat kehadiran PLTU batu bara di dekat kawasan padat penduduk berpotensi membahayakan warga setempat.
Menurut penelitian tersebut, polusi udara dari PLTU batu bara bertanggung jawab atas 10.500 kematian di Indonesia pada 2022 dan biaya kesehatan sebesar 7,4 miliar dollar AS.
Dampak kesehatan ini akan terus meningkat dengan beroperasinya PLTU batu bara yang baru.
Oleh karenanya, perlu untuk segera mempensiunkan PLTU batu bara dan menggantinya dengan sumber energi terbarukan yang tidak menimbulkan emisi.
Baca juga: Ini Bahaya PLTU sebagai Silent Killer bagi Negara yang Luput dari Perhatian
Dalam penelitian Health Benefits of Just Energy Transition and Coal Phase-out in Indonesia, IESR dan CREA turut menyusun daftar PLTU batu bara dengan dampak biaya kesehatan tertinggi.
Daftar PLTU batu bara dengan dampak biaya kesehatan tertinggi terletak di atau dekat dengan daerah padat penduduk.
Populasi di dekatnya terkena paparan tinggi dari polutan, misalnya karena arah dari angin permukaan yang bertiup dari arah tertentu dalam waktu lama serta kinerja kontrol emisi yang buruk.
Daftar PLTU batu bara dengan dampak biaya kesehatan tertinggi dibagi menjadi dua yaitu tersambung dengan jaringan dan PLTU batu bara captive alias kepunyaan industri untuk mencukupi energinya.
Berikut daftar PLTU batu bara dengan dampak biaya kesehatan tertinggi yang tersambung dengan jaringan.
Baca juga: Rencana Pensiun Dini PLTU Batu Bara Perlu Libatkan Pemerintah Daerah
Provinsi: DKI Jakarta, 400 MW
Provinsi: Banten, 1260 MW
Provinsi: Jawa Barat, 660 MW
Provinsi: Jawa Barat, 924 MW
Provinsi: Jawa Tengah, 2.260 MW
Provinsi: NTT, 24 MW
Provinsi: Kalimantan Barat, 100 MW
Provinsi: Kalimantan Barat, 55 MW
Provinsi: Kalimantan Timur, 100 MW
Provinsi: Kalimantan Selatan, 460 MW
Provinsi: NTB, 14 MW
Provinsi: NTB, 6 MW
Provinsi: NTB, 20 MW
Provinsi: NTT, 6 MW
Provinsi: NTT, 14 MW
Provinsi: Sulawesi Tenggara, 30 MW
Provinsi: Sulawesi Selatan, 30 MW
Provinsi: Sulawesi Selatan, 200 MW
Provinsi: Sulawesi Selatan, 450 MW
Provinsi: Sulawesi Utara, 6 MW
Baca juga: Pensiun PLTU Batu Bara dan Pengembangan Energi Terbarukan Jadi PR Masa Depan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya