Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 29 Juli 2023, 21:33 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Makanan menyumbang sepertiga dari emisi gas rumah kaca (GRK) yang disebabkan oleh manusia. Jadi, jangan membayangkan hanya industri berat, pertambangan, atau jet pribadi yang jadi biang keladi Bumi makin panas dan berpolusi.

Ternyata, sistem pangan global juga menyumbang sepertiga emisi GRK. Kok bisa?

Ya, karena menurut PBB, produksi pangan menggunakan 70 persen air tawar dunia. Lebih parah lagi, Program Pangan Dunia memperkirakan bahwa hampir sepertiga pangan yang kita tanam hilang atau terbuang percuma setiap tahun.

Angka-angka ini sangat mengkhawatirkan ketika Global Report on Food Crises 2023 mencatat bahwa 258 juta orang menghadapi kerawanan pangan tingkat tinggi pada tahun 2022.

Baca juga: Realisasikan Ketahanan Pangan, Bayer Luncurkan Jagung Bioteknologi

Meskipun masalah ini tampaknya tidak dapat diatasi, masih ada alasan untuk berharap tentang masa depan pangan. Makanan mendapatkan lebih banyak perhatian di forum perubahan iklim.

Konferensi iklim COP27 tahun lalu memberi paviliun sistem pangan pertama. Dan meskipun rencana empat tahun yang disepakati tentang pertanian dan ketahanan pangan dipermudah, konferensi iklim melihat pangan naik ke agenda untuk pertama kalinya.

Bagaimana merombak sistem pangan juga menjadi topik utama di Compassion in World Farming's Extinction or Rebellion Conference awal tahun ini.

Konferensi tersebut mempertemukan para ilmuwan, aktivis, dan pembuat kebijakan untuk membahas bagaimana sistem pangan dapat berubah sebagai respons terhadap keadaan darurat iklim.

Baca juga: Dukung Ketahanan Pangan, Ajinomoto Gunakan Pupuk dari Produk Samping Penyedap Rasa

“Ada peningkatan kesadaran akan manfaat pertanian regeneratif dan agroekologi dan perlunya mempertanyakan jumlah daging dan susu yang kita konsumsi. Kembali berproduksi. Dan cara hal itu disampaikan kepada kami,” kata CEO Compassion in World Farming Philip Lymbery.

Berikut lima cara untuk menurunkan emisi GRK:

1. Program pangan dunia

Jika menggunakan semua makanan yang saat ini terbuang percuma, kita akan memiliki cukup makanan untuk memberi makan tambahan dua miliar orang di seluruh dunia.

Ini berarti bahwa kita sudah memproduksi makanan yang cukup untuk memberi makan 9,8 miliar populasi dunia yang diperkirakan terjadi pada tahun 2050.

Tetapi mengurangi limbah adalah kunci untuk mewujudkannya. Eropa, Amerika Utara, China, Jepang, dan Korea bertanggung jawab atas 58 persen dari semua makanan yang terbuang percuma di pertanian, meskipun hanya menjadi rumah bagi 37 persen populasi global.

Laporan WWF 'Driven to Waste: The Global Impact of Food Waste on Farms' menunjukkan kekuatan pasar, termasuk harga rendah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau