Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sorgum, Tanaman Kaya Manfaat yang Cocok di Lahan Bekas Tambang

Kompas.com, 16 Oktober 2023, 16:00 WIB
Heru Dahnur ,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

BANGKA, KOMPAS.com - Tanaman sorgum hingga kini masih terabaikan. Padahal, sorgum bisa tumbuh di lahan minim pasokan air. Selain itu sorgum bisa menghasilkan berbagai macam produk turunan.

Dewan Pakar Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Bangka Belitung Deddy Hartady mengatakan, minat masyarakat untuk bertanam sorgum terbilang rendah. Sehingga tanaman serealia itu terkesan terabaikan dan tidak masuk prioritas budidaya.

"Kalau bicara di Bangka Belitung sorgum ini sudah dikenalkan sejak 1995, masih zaman orde baru. Tapi masyarakat kebanyakan maunya instan dan ada penambangan yang dianggap lebih cepat dapatnya," kata Deddy saat berbincang dengan Kompas.com, di Pangkalpinang, Minggu (15/10/2023).

Deddy mengungkapkan, dirinya punya pengalaman pahit saat menghadapi situasi ketika sorgum berhadapan dengan kepentingan penambangan timah oleh masyarakat. Kala itu sorgum yang sudah tumbuh besar dibabat habis karena lahannya jadi lokasi penambangan.

Baca juga: Pangan Lokal Jadi Solusi Krisis Pangan, tapi Ada Hambatan

"Nangis saya karena sorgumnya sebentar lagi panen, tapi akhirnya dibabat semua karena mau ditambang timah," ujar Deddy.

Namun ,Deddy mengaku tidak mau berputus asa dengan kondisi yang terjadi. Ia terus mengajak masyarakat untuk bertanam sorgum. Baik itu tanaman dalam skala kebun, maupun tanaman pekarangan rumah.

Edukasi tentang sorgum, menjadi salah satu kunci untuk mengubah pola pikir masyarakat.

Menurut Deddy, Bangka Belitung menjadi daerah yang cocok untuk budidaya sorgum. Sebab banyak lahan kritis bekas penambangan yang harus dipulihkan.

"Sorgum sebagai tanaman pangan yang sejalan dengan program food estate pemerintah," ujar Deddy.

KTNA Bangka Belitung akan terus menggiatkan penanaman sorgum. Saat ini sedang dipersiapkan lahan seluas empat hektar di Sungai Selan, Bangka Tengah.

Sorgum yang sekilas seperti tanaman jagung dan gandum itu, diproyeksikan bisa panen dalam masa tiga bulan. Dalam setahun setiap hektarnya bisa panen sebanyak tiga kali.

Baca juga: Pemerintah Harus Jamin Akses Masyarakat Beli Beras saat Harga Pangan Naik

"Panen kedua bisa menghasilkan lebih banyak dari panen pertama. Kalau panen pertama tiga sampai empat ton per hektar. Sementara pada panen kedua bisa mencapai lima sampai tujuh ton per hektar. Ini bisa terjadi karena pada panen kedua semua rumpun telah menghasilkan malay (tongkol) sorgum secara maksimal," papar Deddy.

Satu malay berat biji keringnya berkisar dua sampai lima ons. Estimasi penanaman untuk setiap hektar sebanyak 1.000 batang.

Anakan sorgum atau ratun biasanya tumbuh besar saat batang induk dipanen. Sehingga petani tidak perlu menanam berulang-ulang.

"Dalam setahun cukup satu kali tanam. Tanaman kering dengan kebutuhan air yang sangat rendah, bahkan di bawah jagung, sehingga cocok untuk lingkungan panas dan lahan kritis," jelas Deddy yang dijuluki jenderal sorgum.

Baca juga: Irjen Kementan: 20 Persen Dana Desa untuk Sektor Pangan

Saat ini, harga beli biji sorgum kering berkisar Rp 5.000 per kilogram hingga Rp 10.000 per kilogram. Selanjutnya dari biji sorgum bisa diolah menjadi beras sorgum, popcorn, tepung dan susu.

"Semua bahan makanan dari sorgum menjadi makanan wajib bagi anak autis, auto imun dan mereka yang sedang diet," ucap Deddy.

Sementara batang sorgum bisa diolah menjadi bahan baku gula pasir atau dijadikan pakan ternak.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau