Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rasminto
Dosen

Dosen Prodi Geografi FKIP Universitas Islam 45 (UNISMA) dan Pemerhati Sosial dan Kependudukan

Eksploitasi Air Tanah: Tantangan dan Peluang Jakarta

Kompas.com, 11 Juni 2024, 19:19 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

AIR tanah di Jakarta merupakan salah satu sumber air yang penting bagi warganya. Namun, seiring dengan pertumbuhan penduduk yang pesat dan urbanisasi tidak terkendali, kondisi air tanah di kota ini mengalami tekanan signifikan.

Peningkatan konsumsi air tanah oleh industri dan rumah tangga menyebabkan penurunan cadangan air tanah.

Masalah ini diperburuk minimnya sistem pengelolaan dan perlindungan air tanah, yang pada akhirnya berdampak pada ketersediaan dan kualitas air bagi warga Jakarta.

Jakarta mengalami penurunan kualitas lingkungan akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan.

Aktivitas ini telah menyebabkan penurunan muka tanah (land subsidence) yang signifikan, di mana tanah mengalami penurunan yang cukup mengkhawatirkan per tahunnya.

Profesor Riset Bidang Metereologi Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN Eddy Hermawan (Mongabay, 8/10/2021), menjelaskan bahwa peristiwa penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut yang terjadi bersamaan, pada 2050 mendatang diprediksi akan membanjiri wilayah di Jakarta hingga seluas hampir 160,4 kilometer persegi (km2) atau mencapai 24,3 persen dari total wilayah DKI Jakarta.

Kondisi ini memperburuk masalah banjir, karena permukaan tanah yang semakin rendah meningkatkan risiko air laut masuk ke daratan (rob) dan mengganggu drainase kota.

Nandhi Sugandhi (2021) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa terdapat 6 wilayah di Jakarta Utara yang memiliki tingkat kerentanan banjir rob, yakni Cilincing (364 ha), Kelapa Gading (583 ha), Koja (99 ha), Pademangan (268 ha), Penjaringan (909 ha), Tanjung Priok (153 ha).

Selain itu, intrusi air laut ke dalam akuifer air tawar telah mencemari sumber air tanah, menjadikannya tidak layak dikonsumsi atau digunakan.

Pertumbuhan penduduk Jakarta yang pesat, terutama di wilayah urban, menambah beban pada sumber daya air tanah. Kepadatan penduduk yang tinggi menciptakan kebutuhan air sangat besar, yang sebagian besar dipenuhi melalui eksploitasi air tanah.

Berdasarkan data BPS (2021) diketahui sebaran kepadatan penduduk Jakarta berdasarkan urutan tertinggi, yakni di Jakarta Pusat (20,360 jiwa/Km2), Jakarta Barat (19,608 jiwa/Km2), Jakarta Timur (16,729 jiwa/Km2), Jakarta Selatan (14475 jiwa/Km2), Jakarta Utara (12,749 jiwa/Km2) dan Kepulauan Seribu (2774 jiwa/Km2). Kepadatan penduduk rata-rata Jakarta adalah 15,978 jiwa/Km2.

Tentunya kepadatan penduduk berpengaruh besar terhadap konsumsi air tanah. Pengambilan air tanah secara berlebihan tanpa pengendalian menyebabkan penurunan permukaan air tanah, yang berakibat pada intrusi air laut di beberapa daerah pesisir dan penurunan kualitas air tanah.

Fenomena ini berdampak langsung pada keberlangsungan hidup penduduk yang sangat bergantung pada sumber daya air tersebut.

Eksploitasi air tanah yang berlebihan juga berdampak pada kehidupan sosial dan penduduk Jakarta.

Penurunan kualitas air tanah memaksa penduduk beralih ke air yang dipasok oleh perusahaan air minum, yang seringkali lebih mahal dan sulit diakses oleh masyarakat berpenghasilan rendah.

Masalah banjir akibat penurunan muka tanah juga menyebabkan kerugian ekonomi yang besar dan membahayakan kesehatan masyarakat akibat genangan air yang tercemar. Penurunan muka tanah telah mengakibatkan banyak bencana di pesisir Jakarta, khususnya banjir.

Jika persoalan tersebut tidak segera diantisipasi lebih masif, maka Jakarta berpotensi merugi hingga Rp 10 triliun per tahun.

Hal tersebut disampaikan Menko Perekonomian RI, Airlangga Hartarto (Liputan6.com, 10/1/2024) dalam seminar nasional yang diadakan Universitas Pertahanan, Jakarta.

"Nanti koridor ekonomi Jawa akan terganggu kalau banjir rob. Kerugian akibat banjir mencapai Rp 2,1 triliun per tahun, hanya di Jakarta. Sehingga dalam 10 tahun bisa (meningkat hinga) Rp 10 triliun kerugiannya," ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau