Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fasilitasi Diskusi Isu Lingkungan, KLHK Luncurkan Laboratorium Ekosos

Kompas.com, 12 Agustus 2024, 12:07 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laboratorium Ekologi dan Keadilan Sosial (Lab Ekosos) yang diinisiasi oleh Institut Hijau Indonesia, resmi diluncurkan di Jakarta, pada Sabtu (10/8/2024).

Program ini bertujuan untuk mempertemukqn para pemuda agar duduk bersama-sama di satu tapak, berdiskusi dan belajar bersama, misalnya menghitung keanekragaman hayati, melihat kontribusi ekonomi suatu kawasan, bahkan menghitung karbon, termasuk kontribusi Lab Ekosos terhadap program Indonesia's FOLU Net Sink 2030.

Dalam sambutan saat peluncuran, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyampaikan ada tiga makna penting laboratorium ekosos dalam upata mencapai kemajuan dalam lingkungan hidup dan kehutanan.

Baca juga:

“Pertama, laboratorium lapangan seperti ini akan menuntun kita pada kerja yang sistematis di lapangan, misalnya dalam proses menanam pohon sehingga terbangun kesadaran bahwa menanam itu penting dan menjadi bagian dari dorongan naluri,” ujar Menteri Siti, dalam pernyataannya.

Kedua, kata dia, laboratorium lapangan seperti ini sangat penting untuk menjawab dan merintis secara nyata bentuk-bentuk ataupun situasi dari ekosistem yang ideal, yaitu suatu ekosistem yang terbangun dari elemen dasar sistem ekologi dan sistem sosial.

Menteri Siti menjelaskan, ekosistem itu artinya blending atau menyatunya antara sistem ekologi dan sistem sosial.

Misalnya, di desa dimana alam terjaga, ada ruang masyarakat untuk membangun ekonomi, terdapat kohesi sosial yang baik yakni hubungan interaksi antar manusia, ada ruang kesempatan masyarakat yang terbuka untuk maju, aksesibilitas yang baik, hubungan ke dalam dan keluar yang baik (inward dan outeward looking), akses informasi yang cukup, dan beberapa kriteria lagi dalam teori-teori pembangunan desa.

“Seperti itulah antara lain ekosistem desa yang ideal. Laboratorium Ekosos lapangan ini akan menuntun hingga ke fase ekosistem pedesaan yang ideal tersebut," imbuhnya.

Dorong keilmuan

Ketiga, pada konteks keilmuan, saat berbicara tentang keadilan sosial dan ekologis, maka praktik-praktik empirik lapangan dan akumulasinya akan membangun temuan-temuan baru atau novelty untuk terbangunnya sebuah teori.

“Jadi, laboratorium lapangan ini juga akan sangat berarti dalam mengembangkan keilmuan dan melengkapi keilmuan lingkungan dari cabang utamanya semula dari keilmuan geografi dan ekonomi,” ujarnya.

Baca juga:

Laboratorium lapangan juga akan melengkapi keilmuan lingkungan dengan ilmu dasar politik, ilmu dasar hukum, ilmu alam, bahkan statistika. Sehingga, ada jalan baru menuju penguatan keilmuan lingkungan dan ini akan menarik bagi para akademisi dan peneliti.

"Dalam kebijakan dan operasional lingkungan, stakeholders dengan requirement tertinggi adalah para peneliti dan akademisi. Tantangan menjawab itu bagi para peneliti dan akademisi sekarang sudah mulai terbuka, dan itu akan bisa dilakukan oleh generasi muda kita," ujar Menteri Siti.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan keyakinannya, bahwa komitmen dan kerja keras bersama dapat menghadapi tantangan lingkungan sekaligus mewujudkan visi Indonesia yang lebih hijau, adil, dan berkelanjutan.

Menteri Siti berharap, kegiatan ini dapat terus berlanjut dan berkembang, menjadi inspirasi bagi lebih banyak orang untuk terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan.

“Mari kita jadikan momentum ini sebagai titik awal dari gerakan besar yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, terutama kaum muda, dalam menjaga dan merawat bumi kita tercinta," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Institut Hijau Indonesia sekaligus Founder Green Leadership Indonesia (GLI), Chalid Muhammad, melaporkan bahwa GLI bekerjasama dengan Ditjen PDASRH, BSILHK dan BP2SDM KLHK membangun Laboratorium Keadilan Sosial dan Ekologi (Lab Ekosos) tersebut.

Ia menjelaskan, para pemuda di kampus diharapkan dapat memanfaatkan Lab Ekosos sebagai tempat bertemu dan bertukar pikiran bersama.

"Kami berharap Lab Ekosos ini menjadi tempat di mana alumni Green Leadership Indonesia, Green Youth Movement, Green Ambassador, bersama generasi muda yang lain tidak hanya berdiskusi, tetapi memikirkan bagaimana masa depan Indonesia akan dibangun karena merekalah sesungguhnya pemilik dan pewarisnya," ujar Chalid.

Pada saat yang sama, GLI bersama UPT KLHK di seluruh Indonesia bersama generasi muda melakukan penanaman serentak yang menjadi bagian dari gerakan Kaum Muda Menanam ke-2.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
LSM/Figur
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Pemerintah
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
Pemerintah
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
Pemerintah
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Pemerintah
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk  Menyusui
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk Menyusui
Pemerintah
 Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
LSM/Figur
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Pemerintah
 Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
LSM/Figur
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
LSM/Figur
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau