KOMPAS.com – Studi terbaru dalam jurnal Science of the Total Environment menunjukkan, 350 gajah di Botswana, Afrika bagian Selatan, mati karena meminum air beracun. Adapun, kematian gajah pertama kali ditemukan di Botswana timur laut pada Mei dan Juni 2020.
Mengutip The Guardian, Sabtu (30/11/2024), studi itu menyebutkan gajah berputar-putar terlebih dahulu sebelum pingsan lalu mati. Peneliti dari King's College London Davide Lomeo mengungkapkan, gajah-gajah keracunan air yang mengandung ganggang biru-hijau (Cyanobacteria) beracun.
Menurutnya, krisis iklim meningkatkan jumlah ganggang yang berbahaya tersebut. Dia menjelaskan, para peneliti menganalisis bangkai gajah menggunakan data satelit. Menurut Lomeo, timnya meneliti 3.000 lubang air. Hasilnya, tim peneliti menemukan air yang telah terkontaminasi ganggang biru-hijau sejak 2020.
Baca juga:
"Gajah-gajah itu tidak punya pilihan selain minum dari lubang-lubang air," ujar Lomeo
Dalam laporannya, peneliti menduga air beracun itu juga dikonsumsi dan menyebabkan hewan lainnya mati. Mereka mengatakan, kematian ratusan gajah menjadi peristiwa besar yang pernah tercatat.
"Secara global, peristiwa ini menggarisbawahi tren mengkhawatirkan penyakit yang datang tiba tiba dan disebabkan oleh iklim,” ungkap para peneliti.
Tim peneliti juga menemukan sebanyak 35 gajah di Zimbabwe mati karena bakteri misterius. Kondisi ini dikaitkan dengan kekeringan berkepanjangan di wilayah tersebut.
Selain itu, 200.000 antelop saiga ditemukan mati akibat keracunan darah atau septikemia hemoragik yang berkaitan dengan krisis iklim di Kazakhstan.
"Sangat menyedihkan bahwa begitu banyak gajah mati, tetapi ini juga mengisyaratkan tren global penyakit yang tiba-tiba dan disebabkan oleh iklim. Ada bukti kuat bahwa ini dapat terjadi lagi pada hewan apa pun," ucap Lomeo.
Para peneliti berkata, studinya menekankan pentingnya pengawasan kualitas air untuk mencegah lebih banyak kasus kematian hewan. Terlebih, kondisi Afrika Selatan yang saat ini terancam kekeringan dan lebih panas.
Baca juga:
Direktur konservasi di lembaga amal National Park Rescue Niall McCann menilai, penelitian itu memperlihatkan kepada dunia peneyebab kematian massal gajah-gajah di kawasan Afrika pada 2020 lalu.
“Penelitian tersebut menambah bukti yang kuat bahwa perubahan iklim dapat menimbulkan berbagai dampak mematikan pada satwa liar, mulai dari mengubah ketersediaan air secara drastis, hingga menyedikan tempat bagi bakteri dan alga berbahaya berkembang biak lalu mengalahkan populasi hewan,” tutur McCann.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya