Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Para Pemuda Gaungkan Pertanian Berkelanjutan dalam COP16 Riyadh

Kompas.com - 07/12/2024, 13:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

Priyanka Patil dari Golden Era Eco Services berbagi cerita tentang ketahanan dari pedesaan juga dari India.

Dia berujar, masyarakat pertanian pedesaan beralih dari sistem pangan tradisional ke monokultur dan tanaman komersial karena berbagai faktor dan tekanan ekonomi.

Praktik tersebut justru merusak tanah dan berkontribusi terhadap degradasi lahan dan kekeringan, sehingga mengancam produksi pangan dan merugikan masyarakat.

Baca juga: Pengelolaan Lahan dan Air Berkelanjutan Perlu Investasi Rp 4,8 Kuadriliun Per Tahun

Berbagai kegiatan, seperti rotasi tanaman, penanaman campuran, dan pengelolaan air dapat membantu mengatasi kerusakan ini.

Glenda Mangia dari Fundacion CAUCE di Argentina menyebutkan, praktik pertanian yang tidak berkelanjutan merupakan lingkaran setan.

Pemberian pupuk kimia ke tanah dan penggunaan benih dapat menyebabkan degradasi lahan.

Ia menjelaskan bahwa pekerjaannya berfokus pada pengembangan kapasitas pemuda untuk membalikkan siklus yang merusak dengan memperkenalkan rotasi tanaman, mengurangi pertanian monokultur, dan menggunakan lebih sedikit pupuk dan pestisida.

Anand Ethirajalu dari Conscious Planet membagikan studi kasus petani kelapa yang beralih ke praktik agroekologi.

Baca juga: Warga di Berau Manfaatkan Lahan Hutan Mangrove untuk Bertambak

Metode tersebut dapat memperbaiki tanah dan meningkatkan produktivitas hingga 55 persen dalam beberapa tahun.

Dia mengatakan, membangun kembali kesehatan tanah dengan menggunakan pupuk organik memiliki potensi tertinggi untuk meningkatkan produktivitas.

Sekretaris Eksekutif UNCCD Ibrahim Thiaw menyampaikan, makanan yang berkualitas dan sehat merupakan apotek terbaik.

"Jadi penting bagi kita untuk benar-benar mempertimbangkan kualitas makanan yang kita makan karena berkaitan dengan kesehatan tanah kita," kata Thiaw.

Thiaw menyampaikan, tanah menjadi segalanya untuk manusia. Dalam kondisi ekstrem, degradasi tanah bisa menyebabkan penggurunan.

Baca juga: COP16 Riyadh: Investasi Restorasi Lahan Berdampak Ekonomi 30 Kali Lipat

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau