Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 30 Desember 2024, 21:08 WIB
Sri Noviyanti,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

Ia memberi contoh di Desa Jembayan Tengah, Loa Kulu, Kutai Kartanegara yang dikenal sebagai kampung kambing berhasil meningkatkan pendapatan ekonomi warga di desa tersebut lewat budidaya.

Baca juga: Jembatani Keterbatasan lewat Kesetaraan Pendidikan, MMSGI Bantu Akses Pendidikan di Desa-desa Kaltim

“MHU awalnya membantu dengan memberikan 12 indukan kambing jenis PE dan Etawa. Lalu melakukan pendampingan serta pembinaan dalam memelihara ternak. Melihat ada perkembangan, MHU menggelontorkan lagi bantuan bibit kambing sebanyak 24 ekor,” jelasnya.

Perjuangan itu, kata dia, berjalan selama dua tahun hingga akhirnya membuahkan hasil. Ternak di Jembayan Tengah sukses. Bibit indukan kambing itu berkembang jadi 128 ekor, dan jumlahnya terus bertambah.

Pemantauan MHU berdasarkan kajian SROI, kambing yang berhasil terjual mencapai 200 ekor, dan kambing yang dipelihara warga sekitar 250 ekor.

“Artinya, investasi sosial yang digulirkan MHU berhasil mencapai lompatan ‘untung’ hingga melonjak tajam, atau lebih dari sepuluh kali lipat, terhitung dalam kurun lima tahun sejak pertama kali digulirkan pada 2018,” jelasnya.

Tak heran, pada 2024, MMSGI menerima berbagai award dari berbagai institusi terkait program-program ESG ataupun CSR yang dilakukan.

Baca juga: Terapkan Good Mining Practice, MHU Raih ASEAN Coal Awards 2023

Di antaranya, TOP CSR Awards 2024 kategori Excellence bintang 5 dan CSR Awards 2024 sebagai Most Impactful Program Prosperity.

Penghargaan-penghargaan tersebut diberikan kepada perusahaan yang memiliki program CSR dan ESG yang terimplementasi dengan baik dan berkelanjutan.

“Penerapan ESG membuat bisnis kami lebih berkelanjutan, terukur, dan transparan. Kami (juga) secara aktif bekerja sama dengan pemangku kepentingan untuk mewujudkan hubungan yang saling menguntungkan,” ujarnya.

Standar baru industri pertambangan

Tak berhenti lewat program tersetruktur dan acuan yang telah dibuat, MMSGI ingin lebih berdampak lagi untuk menularkan semangat keberlanjutan. Hal ini terlihat lewat keterlibatan aktif sebagai anggota Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi).

Baca juga: Proyek Pompa Hidram MMSGI dan MHU Masuk Grand Final IGCN SDG Innovation Accelerator Award 2024

Lewat forum Perhapi 2024, MMSGI melalui anak perusahaannya, PT MHU, berperan aktif dalam diskusi mengenai standar GMP, seperti Work at Height (WAH) dan standardisasi pertambangan batu bara dalam lingkup Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP).

“SMKP adalah kerangka kerja yang wajib diterapkan oleh seluruh perusahaan tambang di Indonesia sebagaimana diatur oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). SMKP dirancang untuk memastikan bahwa setiap aktivitas operasional di sektor pertambangan dilakukan dengan mengutamakan keselamatan kerja dan pengelolaan risiko yang efektif,” jelasnya.

Sebagai bagian dari implementasi SMKP, tak hanya MHU, seluruh perusahaan yang bergerak di industri tambang diwajibkan untuk melakukan identifikasi bahaya, menyusun prosedur kerja yang aman, serta menetapkan target keselamatan kerja yang terukur secara rutin.

Semua dokumen terkait, termasuk kebijakan, laporan implementasi, dan pencapaian indikator keselamatan, juga harus dilaporkan kepada pemerintah setiap tiga bulan sekali. Hal ini menciptakan transparansi sekaligus memastikan bahwa standar keselamatan selalu dipantau dan ditingkatkan.

Baca juga: Konsisten Dukung Indonesia NZE 2060, MMSGI Raih CNBC Awards 2023

“SMKP tidak hanya berfokus pada aspek spesifik, seperti work at height, tetapi mencakup seluruh aspek operasional yang berpotensi menimbulkan risiko, dari pengelolaan alat berat hingga perlindungan lingkungan. Dengan demikian, sistem ini menjadi landasan bersama bagi seluruh perusahaan tambang untuk menciptakan budaya keselamatan yang solid, sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.

Melalui penerapan SMKP, perusahaan tambang berkomitmen untuk tidak hanya memenuhi kewajiban regulasi, tetapi juga melindungi karyawan, lingkungan, dan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.

Melalui partisipasi aktif ini, MHU tidak hanya memastikan kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan standar keselamatan kerja di sektor pertambangan Indonesia.

"(Di forum tersebut), kami berbagi praktik terbaik, terutama di aspek sosial yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar,” tambah Wijayono.

Sebagai informasi, Perhapi 2024 dihadiri oleh Direktorat Jenderal (Dirjen) Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, dan berbagai pembicara dari asosiasi tambang.

“Penerapan ESG juga harus mempertimbangkan beberapa faktor, di antaranya kondisi alam atau lingkungan, kondisi infrastruktur, kondisi finansial, dan juga kondisi sumber daya manusia. Jadi, perencanaan program ESG harus bisa merangkum seluruh faktor agar mendapatkan hasil yang terukur sehingga memberikan dampak sesuai dengan target best practices,” paparnya.

Dengan berbagi praktik terbaik dan inovasi, MHU berharap dapat menjadi salah satu penggerak perubahan positif dalam menciptakan industri tambang yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Siap-siap Produksi Baterai EV, IWIP Bangun Pabrik di Weda Bay
Siap-siap Produksi Baterai EV, IWIP Bangun Pabrik di Weda Bay
Swasta
Pakar Jelaskan Pengaruh MJO dan Topografi pada Pola Hujan Indonesia
Pakar Jelaskan Pengaruh MJO dan Topografi pada Pola Hujan Indonesia
LSM/Figur
Pemanasan Global Terjadi Lebih Cepat, Bisa Jadi Ancaman Ekonomi Dunia
Pemanasan Global Terjadi Lebih Cepat, Bisa Jadi Ancaman Ekonomi Dunia
LSM/Figur
Perjanjian Laut Lepas PBB Mulai Berlaku, Upaya Besar Lindungi Samudera
Perjanjian Laut Lepas PBB Mulai Berlaku, Upaya Besar Lindungi Samudera
Pemerintah
Bahan Bakar Bersih Terancam Tertinggal Tanpa Lonjakan Investasi Global
Bahan Bakar Bersih Terancam Tertinggal Tanpa Lonjakan Investasi Global
Swasta
Sido Muncul Kembali Pulihkan Senyum Anak Indonesia di Wilayah Bogor
Sido Muncul Kembali Pulihkan Senyum Anak Indonesia di Wilayah Bogor
BrandzView
Kualitas Udara dan Air di China Meningkat pada 2025
Kualitas Udara dan Air di China Meningkat pada 2025
Pemerintah
KPA Catat 404 Ledakan Konflik Agraria, Reforma Agraria Belum Jadi Prioritas
KPA Catat 404 Ledakan Konflik Agraria, Reforma Agraria Belum Jadi Prioritas
LSM/Figur
Tahu Banyak Orang Peduli Aksi Iklim, Mengapa Tetap Enggan Berubah? Ini Penelitiannya
Tahu Banyak Orang Peduli Aksi Iklim, Mengapa Tetap Enggan Berubah? Ini Penelitiannya
LSM/Figur
Nyamuk Lebih Pilih Darah Manusia akibat Hilangnya Keanekaragaman Hayati
Nyamuk Lebih Pilih Darah Manusia akibat Hilangnya Keanekaragaman Hayati
LSM/Figur
Microsoft Beli 2,85 Juta Kredit Karbon, Disebut Terbesar di Dunia
Microsoft Beli 2,85 Juta Kredit Karbon, Disebut Terbesar di Dunia
Swasta
Gugatan KLH Soal Banjir Sumatera, Menteri LH Sebut Tak Boleh Diam Ketika Lingkungan Rusak
Gugatan KLH Soal Banjir Sumatera, Menteri LH Sebut Tak Boleh Diam Ketika Lingkungan Rusak
Pemerintah
Tumbuhan Ungkap Karakter Iklim dan Tanah Suatu Tempat
Tumbuhan Ungkap Karakter Iklim dan Tanah Suatu Tempat
Swasta
IWIP Target Pangkas 4 Juta CO2 per Tahun lewat PLTS hingga Truk Listrik
IWIP Target Pangkas 4 Juta CO2 per Tahun lewat PLTS hingga Truk Listrik
Swasta
Polusi Udara Dalam Ruangan Tingkatkan Risiko Kematian Dini
Polusi Udara Dalam Ruangan Tingkatkan Risiko Kematian Dini
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau