JAKARTA, KOMPAS.com - Seruan untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai ukuran besar seperti galon bisa jadi tak asing di telinga banyak orang.
Biasanya, seruan tersebut digaungkan dengan dalih keberlanjutan lingkungan lantaran kemasan galon sekali pakai dinilai sebagai penyebab utama pencemaran lingkungan.
Namun, apakah benar kemasan galon sekali pakai merupakan penyumbang terbesar dalam pencemaran lingkungan dan menghindari penggunaannya jadi satu-satunya solusi?
Jika mengacu pada hasil penelitian Net Zero Waste Management Consortium (NZWMC) yang menyoroti top 25 sampah plastik di enam kota, makanya jawabannya tidak.
Baca juga: Fakta Daur Ulang di Balik Plastik PET Kemasan Besar yang Jadi Primadona
Sebab, berdasarkan penelitian tersebut, jenis sampah yang mendominasi lingkungan justru ditempati oleh plastik kemasan kecil, seperti saset dan gelas plastik air minum dalam kemasan (AMDK).
Dalam laporan NZWMC itu, kemasan saset disebutkan menempati posisi tertinggi dengan total 152.783 sampah. Kemudian, urutan temuan terbanyak kedua disusul gelas plastik AMDK dengan total sampah mencapai 135.383 buah.
“Sampah plastik yang paling banyak ditemukan di tempat pembuangan akhir (TPA), badan sungai, hingga laut adalah serpihan plastik kemasan kecil, seperti saset dan gelas plastik AMDK,” ujar Founder NZWMC Ahmad Safrudin dalam seminar Kompas.com Talks bertajuk "Mitos vs Fakta: Benarkah Semua Plastik Adalah Sampah" di Jakarta, Jumat (21/2/2025).
Terkait, kemasan sekali pakai, NZWMC tidak menemukan kemasan jenis ini. menurut Ahmad, hal ini memang wajar karena galon sekali pakai umumnya terbuat dari polyethylene terephthalate (PET).
Baca juga: Murah tapi Sulit Didaur Ulang, Alasan Sampah Gelas Plastik AMDK Membludak
Biasanya, PET banyak digunakan dalam kemasan makanan dan minuman karena sifatnya yang ringan dan kuat.
Kemasan jenis tersebut juga cenderung ramah lingkungan karena terserap dalam sistem daur ulang. Ini lantaran galon jenis ini punya nilai ekonomi yang tinggi dan infrastruktur pengelolaannya yang sudah berkembang sehingga lebih banyak dikumpulkan.
Bagi pemulung dan bank sampah, bisa jadi kemasan gelas AMDK tak lagi menarik. Ukurannya lebih kecil, sering tercampur cairan, dan harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum didaur ulang karena biasanya ada tutup plastik yang menempel.
“Seluruhnya (gelas plastik) harus dibersihkan sebelum didaur ulang dan tiap rantai proses membutuhkan biaya. Pada akhirnya, nilai ekonomi yang seharusnya didapat perlu dipotong karena prosesnya lebih rumit,” terang Ahmad.
Senada dengan Ahmad, CEO Kita Bumi Hadiyan Fariz Azhar Hadiyan Fariz menjelaskan bahwa kemasan ukuran besar jenis PET yang bening jarang ditemukan di TPA karena sudah terserap oleh beragam pihak untuk didaur ulang.
Baca juga: Bukan Hanya Konsumen, Produsen Wajib Kurangi Sampah Plastik
Dalam sistem pengelolaan, galon PET biasanya akan dikumpulkan, dicuci, dihancurkan menjadi serpihan kecil, lalu dilebur menjadi bahan baku plastik baru.
“Kemudian, produk hasil daur ulangnya dapat digunakan kembali dalam berbagai industri, termasuk tekstil, kemasan makanan, hingga menjadi galon baru,” jelas Fariz.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya