Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Riau dan Kalimantan Tengah, Provinsi dengan Masalah Kebun Sawit Masuk Hutan Paling Rumit

Kompas.com, 17 Desember 2025, 18:35 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Riau dan Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan permasalahan keterlanjuran pembangunan perkebunan kelapa sawit dalam kawasan hutan paling pelik.

Di Riau, ekspansi perkebunan kelapa sawit ke kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) mengancam habitat gajah sumatera.

Baca juga:

Sementara itu, Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah badan usaha melakukan keterlanjuran pembangunan perkebunan kelapa sawit terbanyak.

"Dua provinsi yang sangat problematik soal keterlanjuran pembangunan perkebunan sawit dalam kawasan hutan. Riau dan Kalimantan Tengah. Tetapi, percayalah kalau kita bisa melewati masalah ini, sawit bisa lebih baik lagi, itu harapan kita semua," ujar Direktur Eksekutif Sawit Watch, Achmad Surambo dalam webinar, Senin (15/12/2025).

Polemik kebun sawit di TN Tesso Nilo cukup runyam

Koeksitensi jadi penyelesaian masalah di TN Tesso Nilo

Foto Taman Nasional Tesso Nilo dari Tahun 2025 via Google EarthTangkapan layar Google Earth Foto Taman Nasional Tesso Nilo dari Tahun 2025 via Google Earth

Polemik perkebunan kelapa sawit di dalam kawasan TN Tesso Nilo disebut cukup runyam. Terdapat ribuan orang yang tinggal di dalamnya, tapi kawasan tersebut merupakan habitat gajah sumatera yang memang spesies kunci yang perlu dilindungi.

Menurut Surambo, menggusur secara paksa masyarakat dari kawasan TN Tesso Nilo bukanlah jalan penyelesaian yang tepat.

"Tesso Nilo itu suatu perdebatan, hal yang sama-sama di titik ekstrem. Kalau sampai terjadi relokasi besar-besaran, itu akan terjadi pelanggaran HAM (hak asasi manusia) gila-gilaan. Harapan saya ancaman-ancaman itu jangan sampai keluar lagi. Saya kemarin dengar dari Kemenhut sudah mulai ancam-ancam, itu tidak produktif," jelas Surambo.

Koeksistensi dapat menjadi jalan penyelesaian permasalahan tersebut. Melalui dialog, masyarakat lokal diajak hidup berdampingan dengan gajah Sumatera.

"Jadi bagaimana dua-duanya (manusia dan gajah Sumatera) bisa hadir di wilayah itu ya. Bagaimana gajah hadir, tanpa mengganggu orang, orang bisa hadir di situ. Jadi, yang harus dicari jalan keluarnya," tutur Surambo.

Semua wilayah jelajah gajah Sumatera yang telah ditanami kelapa sawit, harus diubah kembali menjadi hutan. Oleh sebab itu, perlu dipastikan gajah sumatera hidup nyaman di habitatnya.

Selain itu, petani rakyat di wilayah tersebut juga harus didorong untuk menerapkan praktik perkebunan sawit berkelanjutan.

Baca juga:

Perubahan status dan fungsi kawasan hutan TN Tesso Nilo

Anak gajah sumatera yang baru saja lahir bersama induknya bernama Yulia di Taman Nasional Way Kambas Lampung, Jumat (5/12/2025).Dok. ANTARA/HO-Kemenhut Anak gajah sumatera yang baru saja lahir bersama induknya bernama Yulia di Taman Nasional Way Kambas Lampung, Jumat (5/12/2025).

Surambo menyarankan perubahan status dan fungsi kawasan hutan di TN Tesso Nilo menjadi perhutanan sosial.

"Jadi, mencari titik-titik temu antara konservasi dan pembangunan. Ini kan sebenarnya cara keluarnya itu," ujar Surambo.

Sebelumnya, Laporan TuK Indonesia dan Pusat Studi Agraria LRI Sosek IPB University mengungkapkan, hanya 36 dari total 185 perusahaan perkebunan sawit di Kalimantan Tengah atau 19,5 persen, yang lolos verifikasi administrasi.

Sementara itu, 148 perusahaan perkebunan sawit atau 80,5 persen belum atau tidak memenuhi persyaratan administrasi.

"Secara keseluruhan dalam konteks perkebunan sawit, dari aspek administrasi sampai tata kelola, berdasarkan penilaian ini, masih banyak sekali temuan kami perusahaan-perusahaan di Kalimantan itu yang beroperasi di bawah standar regulasi yang berlaku," ujar Kepala Departemen Advokasi dan Pendidikan Publik TuK, Abdul Haris di Jakarta, Selasa (18/11/2025).

Ia menilai temuan tersebut mencerminkan lemahnya kepatuhan terhadap perizinan yang menjadi prasyarat utama operasional usaha perkebunan sawit.

Temuan tersebut juga mengindikasi rendahnya akuntabilitas perusahaan dalam memenuhi regulasi perizinan.

Baca juga: 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Data Satelit Ungkap Luasnya Jelajah Paus Biru Kerdil di Perairan Indonesia
Data Satelit Ungkap Luasnya Jelajah Paus Biru Kerdil di Perairan Indonesia
LSM/Figur
Sungai Cisadane Tercemar Pestisida, Warga Diminta Jangan Gunakan Airnya
Sungai Cisadane Tercemar Pestisida, Warga Diminta Jangan Gunakan Airnya
Pemerintah
Cuaca Indonesia Sulit Diprediksi, Apa PLTS Atap di Mall Masih Efektif?
Cuaca Indonesia Sulit Diprediksi, Apa PLTS Atap di Mall Masih Efektif?
Swasta
Proyek Energi Surya dan Angin Melambat Tahun 2025
Proyek Energi Surya dan Angin Melambat Tahun 2025
LSM/Figur
6 Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Wehea-Kelay Kaltim Secara Berkelanjutan
6 Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Wehea-Kelay Kaltim Secara Berkelanjutan
LSM/Figur
 IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
Pemerintah
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
LSM/Figur
Wujudkan 'Green Mining', PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
Wujudkan "Green Mining", PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
BUMN
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Swasta
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
LSM/Figur
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
LSM/Figur
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Pemerintah
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
LSM/Figur
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
Pemerintah
Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau