Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Transisi Energi Indonesia Hadapi Tantangan AI dan Data Center, PLTP Perlu Modernisasi Sistem

Kompas.com, 26 Februari 2026, 13:10 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah memperkenalkan program automation extended secara global, perusahaan teknologi di bidang elektrifikasi dan otomasi, Asea Brown Boveri (ABB) menunjukkan relevansinya bagi sektor energi dan proses industri di Indonesia.

"Saat ini ada ketertarikan besar terhadap otomatisasi dan memang ini akan menjadi kunci bagi transisi energi di Indonesia," kata President of Energy Industries Asia, Anders Maltesen di Jakarta, Rabu (25/2/2026).

Baca juga:

Data center dan AI ancam beban energi di Indonesia

Indonesia bisa kelola potensi energi terbarukan

Indonesia sedang menghadapi tantangan besar dalam transisi energi sebagai upaya dekarbonisasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Indonesia juga harus bisa meningkatkan pasokan listrik sebanyak tiga kali lipat pada tahun 2050, mengingat pertumbuhan penduduk akan disertai dengan peningkatan kebutuhan akan listrik untuk rumah tangga atau penggunaan energi oleh industri.

Namun, negara ini kemungkinan belum mempertimbangkan kehadiran AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) yang saat ini semakin merebak.

Di tengah lonjakan data center yang boros listrik, modernisasi sistem dinilai penting untuk jaga stabilitas dan efisiensi energi. Simak selengkapnya.freepik Di tengah lonjakan data center yang boros listrik, modernisasi sistem dinilai penting untuk jaga stabilitas dan efisiensi energi. Simak selengkapnya.

Pengembangan AI yang disertai dengan pendirian banyak data center (pusat data) dinilai sangat boros listrik sehingga mendorong peningkatan kebutuhan energi.

Tren pertumbuhan data center di Indonesia menambah beban dalam upaya dekarbonisasi yang ditetapkan oleh pemerintah.

Kendati sedikit tertinggal dalam capaian baurannya, Indonesia dapat menjawab tantangan dekarbonisasi tersebut dengan mengelola potensi energi terbarukannya.

Transisi energi di Indonesia, sebaiknya diiringi dengan perluasan akses ke daerah-daerah terpencil.

Negara ini juga perlu menyeimbangkan trilema energi yang dihadapinya, dengan memastikanya terjangkau, mudah diakses, dan aman. Stabilitas dan keamanan energi menjadi prioritas, dengan mencegah pemadaman listrik agar industri bisa mengandalkan pasokannya.

Di sisi lain, listrik harus tersedia dengan tarif yang terjangkau. Jika pemerintah menaikkan tarif listrik terlalu tinggi, hal itu akan memberatkan rumah tangga yang pendapatnya tidak secara serta merta bisa mengikutinya.

Oleh karena itu, Indonesia perlu memastikan aset-aset lama yang sudah ada dimodernisasi agar semain efisien.

Baca juga:

AI bantu transisi energi

Di tengah lonjakan data center yang boros listrik, modernisasi sistem dinilai penting untuk jaga stabilitas dan efisiensi energi. Simak selengkapnya.Freepik/rawpixel Di tengah lonjakan data center yang boros listrik, modernisasi sistem dinilai penting untuk jaga stabilitas dan efisiensi energi. Simak selengkapnya.

Transformasi digital dan AI dapat mendukung keberhasilan transisi energi, dengan memastikan keandalannya sekaligus meningkatkan efisiensi dari industri.

ABB mendukung transformasi menuju pencapaian berbagai target Indonesia di atas. Salah satunya dengan menjadi bagian dari modernisasi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Wayang Windu di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Saat ini, dengan sistem yang telah diperbarui, PLTP Wayang Windu menjadi lebih stabil dan semakin jarang mengalami breakdown.

Keandalan sistem memang sangat penting, terutama bagi pembangkit listrik seperti ini, yang beroperasi 24 jam dalam seminggu.

Saat ini, PLTP Wayang Windu disebut sudah siap untuk menggunakan solusi berbasis digital dan AI yang meningkatkan keandalannya.

Kinerja PLTP Wayang Windu semakin optimal dengan kegagalan yang bisa diprediksi dan peningkatkan efisiensi dari sistemnya.

"Sistem dari ABB sendiri juga dapat diperluas dengan mudah dan ada rencana tentunya untuk pengembangan atau perluasan dari pembangkit listrik ke depannya. Tapi memang kami menyadari bahwa biaya yang dibutuhkan juga dapat diminimalkan sebesar mungkin," tutur Anders.

Baca juga:

Modernisasi sistem

Bauran energi terbarukan di Indonesia perlu ditingkatkan dengan berbagai inovasi, yang tentunya tidak dapat mengabaikan aspek infrastruktur.

Modernisasi sistem merupakan kunci untuk memusatkan infrastruktur yang sudah ada agar beroperasi lebih efisien.

Modernisasi dilakukan agar sistem otomatisasi industri saat ini mampu mengadopsi teknologi baru dan yang sedang berkembang.

Jika sistemnya sudah tua dan tidak dapat terintegrasi dengan teknologi baru ini, akan sangat sulit untuk membuat industri lebih efisien, andal, serta memberikan keamanan energi yang dibutuhkan.

"Solusi digital semakin banyak tersedia, tetapi jika kita tidak dapat menerapkan solusi tersebut pada infrastruktur yang ada, bagaimana kita dapat beroperasi lebih handal? Itu akan menjadi hal yang mustahil, bukan? Dan, disinilah kerangka kerja Automation Extended dari ABB benar-benar membuka jalan untuk masa depan," jelas Vice President of Energy Industri Southeas Asia, Abhinav Harikumar.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Belantara Foundation Gandeng Perusahaan Jepang Tanam Pohon di Hutan Riau
Belantara Foundation Gandeng Perusahaan Jepang Tanam Pohon di Hutan Riau
LSM/Figur
Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan
Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan
LSM/Figur
Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Swasta
Pemerintah Perlu Optimalkan Energi Terbarukan di Tengah Kenaikan Harga Pertamax
Pemerintah Perlu Optimalkan Energi Terbarukan di Tengah Kenaikan Harga Pertamax
LSM/Figur
Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik
Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik
LSM/Figur
Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Pemerintah
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Pemerintah
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
LSM/Figur
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
LSM/Figur
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
Pemerintah
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan 'Sanctuary Park'
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan "Sanctuary Park"
Swasta
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
LSM/Figur
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Pemerintah
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
Pemerintah
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau