Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Eropa Bersiap Hadapi Musim Panas yang Lebih Terik

Kompas.com, 28 Mei 2024, 14:00 WIB
Add on Google
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Eropa diprediksi mengalami musim panas dan yang terik pada tahun ini. Jerman dan negara-negara Nordik bersiap menghadapi suhu yang sangat tinggi mulai pekan depan.

Musim panas di "Benua Biru" biasanya berlangsung mulai Juni hingga Agustus.

Saat musim panas tahun lalu, sebagian besar Eropa selatan mengalami panas ekstrem yang berkepanjangan dengan suhu mencapai 47 derajat celsius yang berlangsung hingga dua pekan.

Baca juga: Jepang Diprediksi Alami Musim Panas Lebih Terik Tahun Ini

Wakil presiden meteorologi di Atmospheric G2 Todd Crawford mengatakan, berdasarkan permodelan yang dilakukan, Eropa akan mengalami musim panas yang luar biasa panas tahun ini.

"Terutama selama akhir Juli hingga Agustus," kata Todd Crawfor sebagaimana dilansir The New York Times, Sabtu (24/5/2024).

Perusahaan pengamat cuaca tersebut memperkirakan, suhu saat musim panas tahun ini akan serupa dengan 2022, musim panas terpanas yang pernah tercatat di Eropa.

Tahun ini, panas paling tidak wajar diperkirakan terjadi di wilayah Eropa selatan di negara-negara populer bagi wisatawan seperti Yunani, Kroasia, dan Italia.

Baca juga: Berkat Laut dan Awan, Indonesia Masih Aman dari Gelombang Panas

Sejak 1991, Eropa menjadi salah satu benua yang memanas paling parah. "Benua Biru" mengalami pemanasan dua kali lipat daripada rata-rata global.

Bahkan, 23 dari 30 gelombang panas paling parah di Eropa sejak 1950 telah terjadi sejak 2000, dengan lima gelombang panas terjadi dalam tiga tahun terakhir, menurut Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO.

Layanan pemantau perubahan iklim bentukan Uni Eropa, C3S, mengatakan ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kerentanan benua ini.

Beberapa faktor tersebut adalah proporsi daratan Eropa di Arktik --wilayah dengan pemanasan tercepat di Bumi-- dan perubahan sirkulasi atmosfer.

Baca juga: Gelombang Panas Perburuk Krisis Kemanusiaan di Gaza

Pengaruh El Nino dan La Nina

Ahli meteorologi dari layanan peramalan Weather & Radar Tamsin Green mengatakan, ada banyak faktor yang memengaruhi perubahan cuaca di Eropa.

Terlebih, dunia saat ini berada dalam fase transisi dari El Nin menuju La Nina, fenomena alami yang berpengaruh besar terhadap pola cuaca dan suhu global.

"Dalam beberapa bulan terakhir, suhu udara dan suhu lautan masih sangat tinggi. Kondisi ini masih bertahan," kata Green.

Meskipun El Nino adalah fenomena pemanasan suhu muka laut (SML) di atas kondisi normalnya di Samudera Pasifik bagian tengah, namun dampaknya bersifat global.

Baca juga: Gelombang Panas di Filipina Tak Mungkin Terjadi Tanpa Krisis Iklim

Green menjelaskan, dampak dari fenomena tersebut seperti efek domino. Cuaca di satu tempat dapat memengaruhi kondisi di belahan bumi lain.

Jika terjadi peningkatan curah hujan di suatu tempat di dunia, maka akan terjadi penurunan curah hujan di tempat lain.

Eropa misalnya, kerap dilanda sisa-sisa badai tropis yang membawa hujan dan angin, sebagaimana dilansir Euronews.

Aktivitas badai di Atlantik, selama musim badai pada bulan Juni hingga November, kemungkinan besar akan meningkat seiring dengan terbentuknya La Nina di Pasifik sehingga mengurangi badai di sana.

Baca juga: BRIN: Indonesia Terlindungi dari Gelombang Panas karena Awan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
LSM/Figur
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
Swasta
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut  yang Sulit Dipantau
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut yang Sulit Dipantau
Pemerintah
INDEF: Salah Menyamakan Dampak Lingkungan PLTP dan PLTU
INDEF: Salah Menyamakan Dampak Lingkungan PLTP dan PLTU
LSM/Figur
Krisis Iklim: Tutupan Salju di Pegunungan Yunani Susut 58 Persen dalam 40 Tahun
Krisis Iklim: Tutupan Salju di Pegunungan Yunani Susut 58 Persen dalam 40 Tahun
Pemerintah
Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
Pemerintah
Momentum RI Raup 'Windfall Tax' Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
Momentum RI Raup "Windfall Tax" Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
LSM/Figur
PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok
PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok
Swasta
Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional
Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional
LSM/Figur
Menteri LH Jumhur Hidayat: UU Cipta Kerja Terlalu Kapitalistik
Menteri LH Jumhur Hidayat: UU Cipta Kerja Terlalu Kapitalistik
Pemerintah
Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut
Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut
LSM/Figur
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Pemerintah
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
Pemerintah
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
LSM/Figur
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau