Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pocari Sweat Gencarkan Program Otsuka Blue Planet

Kompas.com, 1 Juli 2024, 06:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Amerta Indah Otsuka sebagai produsen Pocari Sweat di Indonesia meluncurkan program lingkungan berkelanjutan Otsuka Blue Planet sejak 2022.

Peluncuran program ini merupakan upaya menciptakan masyarakat yang mampu mengelola sampah dengan baik dan benar secara mandiri.

Komitmen untuk memberikan serangkaian kegiatan edukasi telah dilakukan kepada masyarakat bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia.

Baca juga: Amorepacific Indonesia Bersihkan Sampah di Sungai Citarum

Secara ilmiah, warna biru Planet Bumi menunjukkan degradasi dan tidak sebiru beberapa dekade lalu yang diakibatkan dari perubahan iklim.

Karena itu, perusahaan melalui kampanye Otsuka Blue Planet ingin menggerakkan kesadaran masyarakat dan menginspirasi untuk berkontribusi pada kelestarian alam demi mengembalikan warna biru bumi, yang bisa dimulai dari hal terkecil yaitu memilah sampah.

Marketing Director PT Amerta Indah Otsuka Puspita Winawati mengatakan, salah satu
sasaran program Otsuka Blue Planet adalah sekolah, yang merupakan komitmen perusahaan dalam mengedukasi anak-anak sekolah tentang pentingnya memilah sampah.

Mereka juga diajari mendaur ulang, dan membantu sekolah menerapkan manajemen sampah yang baik.

"Sejak 2022, ada enam Sekolah Menengah Atas (SMA) yang menjadi mitra dari program kami dan menjangkau lebih dari 35.000 siswa," ujar Wina.

Baca juga: RI Optimistis Mampu Kurangi 70 Persen Sampah Plastik di Laut

Tak hanya itu, perusahaan juga kembali mengingatkan masyarakat Indonesia dengan peluncuran instalasi raksasa yang terbuat lebih dari 5.000 kaleng bekas berlokasi di Senayan, Jakarta.

Kampanye ini juga mengedepankan kaleng Pocari Sweat edisi baru khusus terbatas, yang melambangkan komitmen untuk berkontribusi terhadap edukasi kesadaran lingkungan dengan program-program yang nyata di Indonesia.

Aksi dari kampanye ini telah dimulai beberapa waktu lalu mencakup aksi pengumpulan kaleng bekas dari berbagai sumber seperti pabrik, bank sampah, komunitas pelari, hingga beberapa publik figur.

Kaleng bekas yang terkumpul ini kemudian dijadikan bagian dari instalasi seni oleh artis lokal yang menggabungkan keunikan dari sampah dan seni.

Dengan menempatkan instalasi ini di area dengan visibilitas tinggi, perusahaan berharap pesan yang ingin disampaikan bisa sampai ke masyarakat.

Menurut Wina, kampanye ini menunjukkan bahwa dengan tindakan nyata, kita dapat menciptakan perubahan positif dan menjaga keindahan serta kelestarian bumi bagi generasi mendatang.

"Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa setiap sampah yang dipilah dan didaur ulang dapat membawa," tuntasnya.

dampak besar bagi kesehatan planet kita,” tutup Wina.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan Kerja, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Masinis dan Asisten
Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan Kerja, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Masinis dan Asisten
BUMN
SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori
SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori
LSM/Figur
Gas Asam Nitrat Bocor di Cilegon, BRIN Imbau untuk Cepat Dinetralkan
Gas Asam Nitrat Bocor di Cilegon, BRIN Imbau untuk Cepat Dinetralkan
Pemerintah
Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana
Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana
LSM/Figur
Gajah Sumatera Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Buru Pelaku
Gajah Sumatera Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Buru Pelaku
Pemerintah
Enggan Jadi Tempat Pembuangan Sampah, Malaysia Larang Impor Limbah Elektronik
Enggan Jadi Tempat Pembuangan Sampah, Malaysia Larang Impor Limbah Elektronik
Pemerintah
Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Pangkas Signifikan Emisi Industri Penerbangan
Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Pangkas Signifikan Emisi Industri Penerbangan
Swasta
Unicef Desak Negara Kriminalisasi Pembuat Konten Pelecehan Anak lewat AI
Unicef Desak Negara Kriminalisasi Pembuat Konten Pelecehan Anak lewat AI
Pemerintah
Ancaman Penambangan Laut Dalam, Kehidupan Dasar Laut Bisa Hilang
Ancaman Penambangan Laut Dalam, Kehidupan Dasar Laut Bisa Hilang
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau