Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 29/10/2024, 13:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

Rata-rata, portofolio 50 hartawan terkaya di dunia hampir dua kali lebih berpolusi daripada investasi di indeks saham utama AS.

Hampir 40 persen kepemilikan saham mereka berada di industri yang padat emisi seperti minyak, pertambangan, pengiriman, dan semen.

Baca juga: IESR: Kerja Sama EBT Indonesia dan China Dapat Percepat Target Nol Emisi

Banyak dari perusahaan-perusahaan ini juga mempekerjakan pelobi dan profesional pemasaran untuk menunda atau mengganggu tindakan terhadap iklim.

Oxfam mengatakan, investasi sebenarnya memiliki potensi terbesar untuk perubahan positif.

Pasalnya, tidak seperti kebanyakan orang miskin dan berpenghasilan menengah, hartawan memiliki pilihan untuk membelanjakan atau menyuntikkan uang mereka.

Jika mereka mengalihkan uang mereka ke sektor rendah karbon, emisi dari investasi mereka akan 13 kali lebih rendah.

Baca juga: Studi: 2024 Jadi Era Transisi Energi yang Sebenarnya, Emisi Segera Capai Puncak

Ketimpangan

Laporan tersebut juga memproyeksikan konsekuensi mematikan dari ketimpangan karbon antara si miskin dan si kaya.

Pada abad mendatang, 1,5 juta kematian berlebih akan disebabkan oleh emisi dari 1 persen orang terkaya alias mereka yang berpenghasilan sedikitnya 140.000 dollar AS alias Rp 2,2 miliar.

Chiara Liguori, penasihat senior Oxfam, mengatakan emisi dari gaya hidup mewah dan investasi orang-orang terkaya terbukti mencemari lingkungan, memicu ketimpangan, kelaparan, dan mengancam kehidupan.

"Tidak hanya tidak adil, polusi yang mereka lakukan secara sembrono memicu krisis yang mengancam masa depan kolektif kita. Dan itu mematikan," ujar Liguori.

Baca juga: DNV Proyeksikan Emisi Karbon di 2050 Turun

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau