Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dukung Ketahanan Nasional Sektor Kesehatan, Kalbe Produksi Dialyzer Pertama di RI

Kompas.com, 19 Desember 2024, 10:34 WIB
Anagatha Kilan Sashikirana,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui anak usahanya PT Forsta Kalmedic Global (Forsta) tengah memproduksi dialyzer lokal pertama di Indonesia.

Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Kalbe untuk mendukung ketahanan nasional di sektor kesehatan dan mewujudkan kemandirian industri alat kesehatan dalam negeri.

Dialyzer adalah komponen penting dalam tindakan hemodialisis atau cuci darah yang menjadi kebutuhan vital bagi pasien gagal ginjal kronis.

Baca juga: Perkuat Produksi Bahan Baku Farmasi, Kalbe Bersama Livzon Investasi Rp 650 Miliar

Data menyebutkan, sebanyak 1,5 juta penduduk Indonesia menderita gagal ginjal kronis, dengan 159.000 di antaranya harus menjalani cuci darah secara rutin.

Selama bertahun-tahun, hampir seluruh kebutuhan dialyzer di Indonesia dipenuhi melalui impor, yang membuat sektor ini rentan terhadap gangguan rantai pasok global.

Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Kartika Setiabudy, menegaskan bahwa upaya produksi lokal dialyzer merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor.

“Kalbe percaya bahwa penyediaan fasilitas produksi dialyzer di dalam negeri adalah bagian dari komitmen kami untuk meningkatkan akses kesehatan bagi masyarakat, khususnya pasien gagal ginjal di Indonesia," ujar Kartika acara Media Plant Visit di Kalbe Business Innovation Center, Jakarta, Rabu (18/12/2024).

Baca juga: Dukung Transisi Energi Bersih Berkelanjutan, Kalbe Morinaga Resmikan PLTS Atap di Karawang

Produksi dialyzer lokal ini juga merupakan inisiatif Kalbe Farma yang dilakukan melalui Forsta, menjadi perusahaan pertama di Indonesia dan kedua di ASEAN yang mampu memproduksi alat ini secara lokal. Dialyzer yang diproduksi, dengan merek RenaCare, telah mendapatkan sertifikasi internasional seperti CPAKB, ISO, dan sertifikasi halal.

Inovasi ini pun diklaim membawa sejumlah manfaat strategis. Secara ekonomi, produksi lokal dialyzer mengurangi ketergantungan pada impor, mendorong manufaktur lokal, dan menghemat pengeluaran negara.

“Produksi lokal dialyzer menghilangkan bea impor dan biaya pengiriman internasional, sehingga harga lebih terjangkau dan biaya perawatan hemodialisis menjadi lebih aksesibel," kata Direktur PT Forsta Kalmedic Global, Yvone Astri Della Sijabat dalam kesempatan yang sama.

Baca juga: Targetkan NZE, Kalbe Susun Peta Jalan Lingkungan

Dari perspektif kesehatan, produksi lokal memastikan ketersediaan alat kesehatan dengan harga terjangkau dan pasokan yang stabil.

“Produksi lokal dialyzer mendukung efisiensi layanan kesehatan dan menjaga keberlanjutan layanan bahkan dalam situasi krisis global," tambah Yvone.

Sebagai informasi tambahan, data dari BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa cuci darah adalah tindakan medis dengan pengeluaran terbesar keempat, mencapai Rp2,9 triliun pada 2023. Dengan lebih dari 85 persen pasien cuci darah berada di usia produktif, produksi lokal dialyzer tidak hanya membantu pasien tetapi juga menekan dampak sosial-ekonomi.

Baca juga: Agroforestri Intensif Dinilai Jadi Solusi Ketahanan Pangan dan Krisis Iklim

Produksi dialyzer lokal ini mendapat dukungan kuat dari pemerintah, termasuk melalui PMK No. 3 Tahun 2023 yang mendorong penggunaan produk dalam negeri. Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, dan BPJS Kesehatan juga menyambut baik pencapaian ini.

Selain itu, Forsta juga melakukan transfer teknologi dengan mitra dari Italia yang diluncurkan pada ajang MEDICA 2024 di Düsseldorf, Jerman. Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan pemerintah Indonesia, termasuk Duta Besar Indonesia untuk Jerman. Inovasi ini menempatkan Indonesia dalam peta global industri alat kesehatan dan membuka peluang menjadi pusat produksi regional.

Inisiatif Kalbe dan Forsta tidak hanya berfokus pada ketersediaan alat kesehatan, tetapi juga pada penguatan sektor manufaktur dalam negeri. Dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40 persen, produk ini menjadi contoh nyata bagaimana inovasi lokal dapat memperkuat ekonomi dan kesehatan masyarakat.

Baca juga: Miliaran Orang Dilanda Kekeringan, Kemitraan Ketahanan Global Diluncurkan

Dengan kebutuhan dialyzer yang diproyeksikan meningkat dari 1 juta menjadi 5-6 juta unit per tahun, langkah strategis ini menjadi tonggak penting menuju Indonesia Emas 2045, sekaligus menciptakan dampak positif bagi generasi mendatang.

"Karena semua rumah sakit kalau mau dapat reimbursement yang lebih baik dari BPJS, mereka harus single use. Artinya national consumption yang cuma 1 jutaan, sekarang akan bertumbuh 5 sampai 6 jutaan. Jadi itu mendorong ketahanan nasional, akses kesehatan yang lebih baik, layanan kesehatan yang lebih baik untuk memastikan quality of life passion Indonesia yang lebih baik," tambah Yvone.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau