Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Taiwan Capai Target Penurunan Polusi Udara PM2.5 pada 2025

Kompas.com, 3 Januari 2026, 15:27 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Taiwan telah mencapai target tahunan terkait penurunan polusi udara partikulat halus (PM2.5) pada tahun 2025.

Kementerian Lingkungan Hidup Taiwan melaporkan rata-rata konsentrasi PM2.5 pada tahun 2025 sebesar 12,6 mikrogram per meter kubik, di bawah target 14 mikrogram.

Capaian tersebut menunjukkan kemajuan Taiwan dalam mengurangi paparan PM2.5, dilansir dari Eco-Business, Sabtu (3/1/2026).

Baca juga:

Taiwan capai target penurunan polusi udara PM2.5

Apa itu PM2.5?

Taiwan menekan rata-rata PM2.5 menjadi 12,6 mikrogram pada 2025, melampaui target nasional dan menunjukkan kemajuan kualitas udara.Dok. Pixabay/pppighil Taiwan menekan rata-rata PM2.5 menjadi 12,6 mikrogram pada 2025, melampaui target nasional dan menunjukkan kemajuan kualitas udara.

Diketahui, PM2.5 adalah partikel di udara dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan aliran darah.

Merujuk pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ambang batas paparan PM2.5 tahunan sebesar lima mikrogram per meter kubik, di atas itu risiko kesehatan naik secara bertahap.

Paparan PM2.5 tahunan di atas 10 mikrogram dalam jangka panjang akan menimbulkan peningkatan risiko penyakit jantung, strok, dan kanker paru-paru.

Paparan PM2.5 tahunan di atas 25 mikrogram dalam jangka panjang dikaitkan dengan kenaikan secara drastis jumlah rawat inap dan kematian dini.

Berdasarkan dokumen kebijakan kualitas udara yang dirilis pada Mei 2025, Taiwan menargetkan penurunan paparan PM2.5 menjadi 10 mikrogram pada tahun 2030, serta di bawah delapan mikrogram pada tahun 2035.

Baca juga:

Taiwan mulai pantau PM.01 mulai 1 Januari 2026

PM0.1 lebih berbahaya dibanding PM2.5

Taiwan menekan rata-rata PM2.5 menjadi 12,6 mikrogram pada 2025, melampaui target nasional dan menunjukkan kemajuan kualitas udara.Dok. Pixabay/tingyaoh Taiwan menekan rata-rata PM2.5 menjadi 12,6 mikrogram pada 2025, melampaui target nasional dan menunjukkan kemajuan kualitas udara.

Taiwan mulai memantau polusi udara partikulat ultrahalus (PM0.1) mulai Kamis (1/1/2026), sebagaimana standar Uni Eropa (UE).

PM0.1 adalah partikel berdiameter kurang dari 0,1 mikrometer, yang jauh lebih kecil daripada PM2.5, serta bisa masuk ke aliran darah dan organ dengan lebih mudah. PM0.1 lebih berbahaya ketimbang PM2.5 bagi kesehatan manusia.

Profesor keselamatan dan kesehatan kerja di Universitas Kedokteran China, Yang Li-hao, menggambarkan PM0.1 sebagai "kuda Troya" yang dapat membawa zat beracun jauh ke dalam tubuh.

Adapun luas permukaan total PM0.1 sekitar 100 kali lipat dari massa PM2.5 yang sama.

Uni Eropa telah mewajibkan negara-negara anggota untuk menyelesaikan jaringan pemantauan PM0.1 pada akhir tahun depan. Taiwan pun akan mendirikan tiga stasiun pemantauan resmi di Taipei, Taichung, serta Tainan.

Negara tersebut juga mendirikan tiga stasiun akademis di Taipei dan Kaohsiung, terutama di titik-titik rawan lalu lintas, yang mana PM0.1 sering dihasilkan oleh keausan ban.

Taiwan mulai menerapkan jaringan pemantauan PM2.5 pada tahun 2005 dan kualitas udara telah membaik sejak saat itu.

"Memulai pemantauan PM0.1 20 tahun kemudian dapat dilihat sebagai awal dari generasi baru tata kelola kualitas udara," ujar Kepala Divisi Kualitas Udara Kementerian Lingkungan Hidup Taiwan, Huang Wei-ming.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
EY: Perusahaan di Indonesia Mulai Beralih ke Standar Pelaporan Keberlanjutan IFRS
EY: Perusahaan di Indonesia Mulai Beralih ke Standar Pelaporan Keberlanjutan IFRS
Swasta
Pilihan Makanan Berdasarkan Usia Bisa Pengaruhi Emisi Global, Kok Bisa?
Pilihan Makanan Berdasarkan Usia Bisa Pengaruhi Emisi Global, Kok Bisa?
Pemerintah
Pulau Tropis Diintai Risiko Panas Lembap Berbahaya
Pulau Tropis Diintai Risiko Panas Lembap Berbahaya
Pemerintah
CEO KG: Jurnalisme Solusi dan Isu Keberlanjutan Jadi Peluang Baru di Tengah Tren 'News Avoidance'
CEO KG: Jurnalisme Solusi dan Isu Keberlanjutan Jadi Peluang Baru di Tengah Tren "News Avoidance"
LSM/Figur
BRIN Kembangkan Katalis Baru untuk Tingkatkan Efisiensi Produksi Bioavtur
BRIN Kembangkan Katalis Baru untuk Tingkatkan Efisiensi Produksi Bioavtur
LSM/Figur
Permintaan Listrik Dunia Naik, IEA Proyeksikan Emisi Karbon Naik 1 Persen pada 2026
Permintaan Listrik Dunia Naik, IEA Proyeksikan Emisi Karbon Naik 1 Persen pada 2026
Pemerintah
Survei: 92 Persen CFO Hadapi Tekanan untuk Buktikan Nilai Ekonomis AI
Survei: 92 Persen CFO Hadapi Tekanan untuk Buktikan Nilai Ekonomis AI
Pemerintah
Peta Global Ungkap Beban Berat Hutan dan Biodiversitas Akibat Tambang
Peta Global Ungkap Beban Berat Hutan dan Biodiversitas Akibat Tambang
Pemerintah
Konflik Timur Tengah Dongkrak Pemakaian Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara Global
Konflik Timur Tengah Dongkrak Pemakaian Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara Global
Pemerintah
Pasar EV Eropa Melesat, Penjualan Naik 40,5 Persen di Semester Pertama 2026
Pasar EV Eropa Melesat, Penjualan Naik 40,5 Persen di Semester Pertama 2026
Pemerintah
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
Pemerintah
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Pemerintah
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Pemerintah
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
LSM/Figur
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau