KOMPAS.com - Green jobs di Indonesia dinilai masih dalam tahap pengembangan, meskipun potensinya cukup besar seiring dengan percepatan transisi menuju ekonomi rendah karbon, menurut Institute for Essential Services Reform (IESR).
Green jobs mengacu pada jenis pekerjaan yang secara langsung atau tidak langsung berkontribusi terhadap perlindungan atau pemulihan lingkungan, sekaligus mendorong penggunaan sumber daya yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Baca juga:
Manager Riset Kebijakan dan Transisi Berkeadilan IESR, Martha Jesica Mendrofa mengatakan, pemerintah memproyeksikan sekitar 760.000 green jobs bisa tercipta dari sektor energi terbarukan dalam 10 tahun ke depan, berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
"Kalau dilihat lebih luas lagi, Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) juga memperkirakan sekitar 4,7 sampai lima juta green jobs bisa muncul sampai tahun 2029. Tidak hanya di sektor energi, tetapi juga di industri, pengolahan limbah, sampai transportasi berkelanjutan," kata Martha kepada Kompas.com, Selasa (10/3/2026).
Green jobs menjadi angin segar untuk pekerja muda di Indonesia, tapi pasar kerjanya dinilai masih belum signifikan. Simak penjelasannya.Martha berpandangan, target penciptaaan 760.000 green jobs bisa terwujud jika dijalankan sesuai rencana pembangunan sistem ketenagalistrikan. Pemerintah perlu memastikan tercapainya realisasi proyek energi baru terbarukan (EBT).
Selain itu, pemerintah perlu menjaga perkembangan rantai pasok industri dalam negeri serta meningkatkan sumber daya manusia (SDM) proyek EBT melalui kerja sama pusat-pusat pelatihan, universitas, pemerintah, industri, dan pelaku usaha.
Ia menambahkan, jenis pekerjaan yang paling banyak dibutuhkan biasanya mengikuti strategi dekarbonisasi atau sektor yang diprioritaskan.
Di sektor energi, misalnya, teknisi di pembangkit energi terbarukan, seperti di pembangkit listrik tealnaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM), serta pembangkit listrik tenaga air (PLTA) akan sangat dibutuhkan.
"Di luar sektor energi, dalam konteks ekonomi rendah karbon yang lebih luas, sektor pertanian dan industri juga berpotensi menciptakan banyak green jobs, terutama lewat praktik produksi yang lebih berkelanjutan," jelas dia.
Sejauh ini, Martha mencatat banyak pekerja muda mulai melirik green jobs.
"Banyak yang mulai melihat green jobs sebagai pekerjaan masa depan, apalagi dengan semakin tingginya kesadaran tentang isu perubahan iklim," sebut Martha.
Sayangnya, pengembangan sektor rendah karbon di Indonesia masih belum sepenuhnya terintegrasi dari sisi pasar kerja. Artinya, peluang kerja masih sangat bergantung pada seberapa cepat sektor hijau berkembang.
Baca juga:
Green jobs menjadi angin segar untuk pekerja muda di Indonesia, tapi pasar kerjanya dinilai masih belum signifikan. Simak penjelasannya.Menurut Martha, berkecimpung di green jobs membutuhkan kombinasi keterampilan atau skill ganda yakni keterampilan teknis serta keterampilan lintas bidang.
"Dari sisi teknis, misalnya keterampilan di bidang keteknikan energi terbarukan, pemodelan sistem energi, penilaian dampak lingkungan, sampai aspek kesehatan dan keselamatan kerja," papar Martha.
"Tapi selain itu, skill non-teknik dan skill interdisipliner juga penting, seperti kebijakan publik, manajemen proyek, keuangan, dan administrasi, karena pengembangan sektor hijau ini sering melibatkan tata kelola usaha pada umumnya dengan pertimbangan keberlanjutan yang lebih kuat," imbuh dia.
Di sisi lain, masih terdapat kesenjangan keterampilan di kalangan generasi muda karena perkembangan teknologi dan industri hijau yang terus berubah.
Martha juga mengingatkan pentingnya memastikan transisi energi berlangsung secara adil bagi pekerja di sektor yang berpotensi terdampak seperti industri batu bara.
Para pekerja yang terdampak perlu mendapatkan dukungan melalui program peningkatan keterampilan maupun jaminan sosial agar tetap memiliki peluang kerja di sektor baru.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya