Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 29 Desember 2023, 16:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com – Ekonomi sirkular belakangan ini kerap menjadi bahasan di berbagai forum di dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Ekonomi sirkular disebut dapat menjadikan perekonomian menjadi lebih berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan.

Lantas, apa penjelasan ekonomi sirkular?

Baca juga: Penerapan ESR dan Langkah Besar Coca-Cola untuk Dukung Implementasi Ekonomi Sirkular di Indonesia

Pengertian ekonomi sirkular

Dilansir dari situs web Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), ekonomi sirkular adalah sistem atau model ekonomi yang bertujuan menghasilkan pertumbuhan ekonomi dengan mempertahankan nilai produk, bahan, dan sumber daya dalam perekonomian selama mungkin.

Dengan sistem seperti itu, diharapkan dapat meminimalkan kerusakan sosial dan lingkungan yang disebabkan oleh pendekatan ekonomi linear.

Ekonomi sirkular mencakup serangkaian intervensi yang luas di semua sektor ekonomi seperti efisiensi sumber daya dan pengurangan emisi.

Dikutip dari situs web Parlemen Eropa, ekonomi sirkular mengusung tiga pilar sebagai modelnya yakni less raw material (lebih sedikit bahan baku), less waste (lebih sedikit sampah), dan fewer emission (lebih sedikit emisi).

Baca juga: Dukung Ekonomi Sirkular, Kemenkeu Resmikan Program Pengelolaan Sampah

Prinsip ekonomi sirkular

Ekonomi sirkular mengusung prinsip di mana bahan baku yang ada sebisa mungkin tidak pernah menjadi limbah dengan menerapkan keberlanjutan produk.

Dalam ekonomi sirkular, produk dan bahan tetap beredar melalui proses seperti pemeliharaan, penggunaan kembali, perbaikan, produksi ulang, daur ulang, dan pengomposan.

Ekonomi sirkular dapat menjadi upaya perlawanan perubahan iklim dan tantangan global lainnya seperti hilangnya keanekaragaman hayati, limbah, dan polusi.

Dikutip dari situs Ellen Macarthur Foundation, setidaknya ada tiga prinsip ekonomi sirkular, yaitu:

  • Menghilangkan limbah dan polusi
  • Sirkulasi produk dan bahan
  • Meregenerasi alam

Baca juga: Danone Sasar Pengurangan Sampah Plastik Melalui Ekonomi Sirkular

Manfaat ekonomi sirkular

Sebagaimana dijelaskan di atas, ekonomi sirkular dapat mengerek pertumbuhan ekonomi sambil tetap mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan.

Di Indonesia, Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) meluncurkan studi mengenai beberapa manfaat ekonomi sirkular.

Studi tersebut dilakukan bersama United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia serta Pemerintah Kerajaan Denmark, dan diluncurkan pada 2021.

Berikut manfaat penerapan ekonomi sirkular di Indonesia menurut hasil studi tersebut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sejumlah Apel di Eropa Terkontaminasi Berbagai Jenis Pestisida
Sejumlah Apel di Eropa Terkontaminasi Berbagai Jenis Pestisida
LSM/Figur
Gletser Himalaya Mencair Hampir 24 Meter dalam 50 Tahun, Setara Gedung 6 Lantai
Gletser Himalaya Mencair Hampir 24 Meter dalam 50 Tahun, Setara Gedung 6 Lantai
LSM/Figur
Ini Cara Singapura Biasakan Warganya Daur Ulang Botol Minuman
Ini Cara Singapura Biasakan Warganya Daur Ulang Botol Minuman
Pemerintah
Pajak Karbon Indonesia Dinilai Belum Efektif Kurangi Emisi, Mengapa?
Pajak Karbon Indonesia Dinilai Belum Efektif Kurangi Emisi, Mengapa?
LSM/Figur
Studi Ungkap Spons Cuci Piring Bisa Jadi Sumber Polusi Mikroplastik
Studi Ungkap Spons Cuci Piring Bisa Jadi Sumber Polusi Mikroplastik
LSM/Figur
Udara Bersih Berpotensi Tingkatkan Produksi Pangan Global
Udara Bersih Berpotensi Tingkatkan Produksi Pangan Global
Pemerintah
Beban Perempuan Global, Habiskan 250 Juta Jam Setiap Hari demi Air
Beban Perempuan Global, Habiskan 250 Juta Jam Setiap Hari demi Air
Pemerintah
Jelang Musim Kemarau, BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 25 Maret
Jelang Musim Kemarau, BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 25 Maret
Pemerintah
Chanel Luncurkan Rencana Transisi Iklim Pertama dan Strategi Net-Zero
Chanel Luncurkan Rencana Transisi Iklim Pertama dan Strategi Net-Zero
Swasta
Dari Sampah Jadi Berkah, Saat Anak Muda di Kudus Sulap Limbah Jadi Kompos
Dari Sampah Jadi Berkah, Saat Anak Muda di Kudus Sulap Limbah Jadi Kompos
Swasta
Kesadaran Lingkungan Meningkat, Korsel Mulai Tinggalkan Botol Plastik
Kesadaran Lingkungan Meningkat, Korsel Mulai Tinggalkan Botol Plastik
LSM/Figur
80 Persen Perusahaan Dunia Makin Libatkan Pemasok dalam Isu Iklim
80 Persen Perusahaan Dunia Makin Libatkan Pemasok dalam Isu Iklim
Swasta
Ubah Sampah Jadi Biochar, Google Targetkan Hapus 200.000 Ton Karbondioksida
Ubah Sampah Jadi Biochar, Google Targetkan Hapus 200.000 Ton Karbondioksida
Swasta
Ciputat Di Urutan Pertama Wilayah yang Alami Cuaca Panas Ekstrem 18-19 Maret
Ciputat Di Urutan Pertama Wilayah yang Alami Cuaca Panas Ekstrem 18-19 Maret
Pemerintah
Studi: Mayoritas Penduduk Dunia Prioritaskan Lingkungan ketimbang Ekonomi
Studi: Mayoritas Penduduk Dunia Prioritaskan Lingkungan ketimbang Ekonomi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau