Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

4 Kiat Kurangi Sampah saat Mudik Lebaran dan Arus Balik

Kompas.com, 25 Maret 2025, 13:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Menjelang Lebaran atau Idul Fitri, mudik menjadi tradisi yang rutin dilakukan oleh mayoritas perantau.

Dengan mudik, para perantau kembali ke kampung untuk halaman bertemu keluarga dan melepas rindu sekaligus merayakan hari raya.

Akan tetapi, tradisi mudik ternyata berpotensi menambah timbulan sampah karena meningkatnya konsumsi berbagai produk selama perjalanan.

Baca juga: KLH Siapkan Edaran Penanganan Sampah Saat Mudik dan Libur Lebaran

Tahun lalu, mudik Lebaran diprediksi meningkatkan timbulan sampah hingga 58.000 ton. 

Tak hanya mudik, tradisi arus balik kembali ke perantauan juga berpotensi meningkatkan timbulan sampah.

Untuk itu, agar tidak mengurangi kekhidmatan hari raya di kamoung halaman, kita perlu ikut mengurangi timbulan sampah saat mudik maupun arus balik.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut empat kiat yang bisa kita terapkan.

Baca juga: Usai Lebaran, BUMDes Dapat Tingkatkan Modal Lewat Investasi

1. Hindari peralatan sekali pakai

Saat perjalanan mudik, makan dan minum menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. 

Kebutuhan tersebut bisa didapatkan dengan membeli dalam perjalanan atau membawa bekal dari rumah. 

Untuk mengurangi sampah, kita bisa menghindari peralatan sekali pakai dan sebagai gantinya membawa peralatan guna ulang.

Dengan demikian, kita dapat mengurangi penggunaan peralatan sekali pakai, baik itu kertas atau plastik, sebagai wadah makanan dan minuman.

Baca juga: Libur Lebaran, Masyarakat Disarankan Tidak Konsumsi Minuman Berenergi

2. Kurangi penggunaan tisu

Tisu merupakan lap serbaguna yang mudah digunakan dalam berbagai situasi, termasuk saat mudik. Namun, penggunaan tisu berlebihan dapat menambah sampah lebih banyak.

Sebaiknya, gunakan lap dan sapu tangan bahan kain untuk mengurangi penggunaan tisu saat perjalanan mudik.

Baca juga: Jaga Kolesterol setelah Lebaran, Dokter Sarankan Hindari Gorengan

3. Jangan buang sampah sembarangan

Dalam perjalanan, konsumsi makanan atau minuman merupakan sebuah keniscayaan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh membuang sampah sembarangan di jalan.

Buanglah sampah di tempat yang telah disediakan. Jangan lupa untuk memilah sampah terlebih dahulu dan tempatkan di wadah yang telah disiapkan.

Saat mudik, baik menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum, kita juga bisa menyiapkan tempat sampah khusus.

Baca juga: Usai Libur Lebaran, Kemenkes Imbau Warga Waspada Flu Singapura

4. Batasi jajan

Membatasi jajan makanan dan minuman selama perjalanan mudik dapat mengurangi volume sampah. Pasalnya, makanan dan minuman, terutama yang dijual di minimarket dikemas menggunakan plastik sekali pakai.

Oleh sebab itu, membatasi jajan selama perjalanan mudik merupakan cara yang cukup ampuh untuk mengurangi timbulan sampah. 

Kita perlu lebih bijak untuk membeli sesuatu sesuai kebutuhan.

Baca juga: Dampak Lingkungan dari Lebaran yang Tidak Berkelanjutan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BMKG Prediksi Hujan Masih Guyur Sejumlah Daerah Saat Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Masih Guyur Sejumlah Daerah Saat Kemarau
Pemerintah
Amazon Capai 75 Persen Target Penghematan Air Pusat Data
Amazon Capai 75 Persen Target Penghematan Air Pusat Data
Pemerintah
Ancaman Energi Bersih: Kabel Turbin Angin Lepas Pantai Ganggu Hiu dan Ikan Pari
Ancaman Energi Bersih: Kabel Turbin Angin Lepas Pantai Ganggu Hiu dan Ikan Pari
Pemerintah
Sri Lanka Larang Botol Plastik Sekali Pakai dan Terapkan Kantong Berbayar
Sri Lanka Larang Botol Plastik Sekali Pakai dan Terapkan Kantong Berbayar
Pemerintah
Luas Karhutla Januari hingga Mei 2026 Tembus 81.000 Hektare
Luas Karhutla Januari hingga Mei 2026 Tembus 81.000 Hektare
Pemerintah
BNPB Catat Banjir, Angin Kencang, dan Karhutla Landa Sejumlah Wilayah
BNPB Catat Banjir, Angin Kencang, dan Karhutla Landa Sejumlah Wilayah
Pemerintah
Grab Berdayakan 189.000 Mitra Pengemudi Perempuan se-Asia Tenggara
Grab Berdayakan 189.000 Mitra Pengemudi Perempuan se-Asia Tenggara
Swasta
DANA dan KKP Perkuat Komitmen Blue Economy lewat Aksi Bersihkan Pantai
DANA dan KKP Perkuat Komitmen Blue Economy lewat Aksi Bersihkan Pantai
Swasta
Kemendagri Akselerasi ILASPP, Menata Batas Desa untuk Lindungi Ruang Hidup Warga Sultra
Kemendagri Akselerasi ILASPP, Menata Batas Desa untuk Lindungi Ruang Hidup Warga Sultra
Pemerintah
Belantara Foundation Gandeng Perusahaan Jepang Tanam Pohon di Hutan Riau
Belantara Foundation Gandeng Perusahaan Jepang Tanam Pohon di Hutan Riau
LSM/Figur
Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan
Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan
LSM/Figur
Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Mahasiswa LSPR Ajak Warga di Bogor Sulap Sampah Jadi Pupuk
Swasta
Pemerintah Perlu Optimalkan Energi Terbarukan di Tengah Kenaikan Harga Pertamax
Pemerintah Perlu Optimalkan Energi Terbarukan di Tengah Kenaikan Harga Pertamax
LSM/Figur
Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik
Kebijakan Iklim yang Parsial Berisiko Rugikan Ekosistem dan Anggaran Publik
LSM/Figur
Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Dana CSR Tak Bisa Jadi Andalan Pengelolaan Sampah Daerah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau