Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Setelah Pendidihan Global, Sekjen PBB Sebut Era Kerusakan Iklim Telah Dimulai

Kompas.com, 7 September 2023, 12:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres dengan tegas menyatakan bahwa era climate breakdown alias kerusakan iklim telah dimulai.

Hal tersebut disampaikan Guterres setelah Organisasi Meteorologi Dunia alias WMO mengumumkan bahwa belahan bumi utara mengalami musim panas terpanas sepanjang sejarah.

Sebelum menyampaikan adanya kerusakan iklim, Guterres pada akhir Juli sempat mengatakan bahwa era global boiling alias pendidihan global telah terjadi, menggambarkan betapa serisunya dibia saat ini dihantam pemanasan global.

Baca juga: Krisis Iklim dan Isu Lingkungan Kurang Diulas Media Daring

Guterres menyampaikan, panasnya suhu pada musim panas ini terasa sangat menggigit.

Pada Rabu (6/9/2023), WMO mengutip data dari Copernicus Climate Change Service (C3S) Uni Eropa menyampaikan, Juli dan Agustus menjadi bulan terpanas yang pernah tercatat.

Suhu rata-rata Agustus diperkirakan lebih hangat 1,5 derajat celsius dibandingkan suhu rata-rata sebelum era industri.

Suhu rata-rata permukaan laut selama Agustus juga mencatatkan rekor tertinggi yakni hampir 21 derajat celsius.

Baca juga: Presiden COP28: Dunia Kehilangan Kesempatan Capai Tujuan Perubahan Iklim

Menurut C3S, sejauh ini tahun 2023 merupakan tahun terpanas kedua setelah tahun 2016, sebagaimana dilansir Al Jazeera.

Para ilmuwan menyebutkan, pembakaran bahan bakar fosil merupakan kontributor terbesar terjadinya pemanasan global.

Dampak pemanasan global saat ini diperparah oleh fenomena El Nino, yaitu siklus menghangatnya sebagian Samudera Pasifik hingga mengubah cuaca di seluruh dunia.

Biasanya, El Nino membuat suhu global lebih panas.

Baca juga: Masyarakat Sangat Peduli Lingkungan, Capres Dituntut Beberkan Strategi Krisis Iklim

“Apa yang kami amati, bukan hanya kondisi ekstrem baru namun kondisi yang terus memecahkan rekor,” kata Direktur Layanan Perubahan Iklim C3S Carlo Buontempo.

“Dan dampaknya terhadap manusia dan bumi merupakan konsekuensi nyata dari pemanasan sistem iklim,” sambungnya.

C3S memiliki catatan sejak 1940. Akan tetapi, Inggris dan Amerika Serikat (AS) memiliki catatan suhu global sejak pertengahan 1800-an.

Baca juga: Para Aktivis Muda Desak Pemimpin ASEAN Rumuskan Kebijakan Iklim Terpadu

Badan cuaca dan sains di Inggris dan AS diperkirakan akan segera melaporkan bahwa musim panas di belahan bumi utara tahun ini adalah yang terpanas.

Di sisi lain, para ilmuwan telah menggunakan lingkaran pohon, inti es, dan perkiraan lainnya untuk memperkirakan bahwa suhu saat ini lebih hangat dibandingkan suhu sekitar 120.000 tahun yang lalu.

Dunia pernah mengalami suhu yang lebih hangat sebelumnya, namun sebelum adanya peradaban manusia.

Baca juga: Anak-anak Afrika Paling Berisiko Terdampak Perubahan Iklim

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau