Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?

Kompas.com, 9 Februari 2026, 20:48 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat, disebut sudah tidak memungkinkan untuk diperluas.

TPST Bantargebang, yang luasnya sekitar 110,3 hektar, sudah dikeliling permukiman warga. Bahkan, kalau pun Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berhasil memperluas TPST Bantargebang sekitar 10 hektar, dalam setahun saja diperkirakan sudah penuh landfill-nya.

Baca juga:

"Jadi kalau pun kami ingin menambah luasan Bantargebang maka kami cari lagi tanah di sekitarnya 20 hektar, itu akan sangat sulit kami mendapatkannya," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

TPST Bantargebang sudah tak bisa diperluas

Berdasarkan kajian ITB pada 2025, daya tampung fisik fasilitas TPST Bantargebang akan habis dalam waktu dekat jika masih mengandalkan penimbunan konvensional.

Beban harian TPST Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh kota/kabupaten di Jakarta.

Usia TPST Bantargebang sudah lebih dari 40 tahun, dengan awalnya rata-rata 2.000-2.500 ton sampah per hari pada 1980-an.

Ketinggian penumpukan sampah di TPST Bantargebang sudah lebih dari 50 meter dan perlu dikurangi secara signifikan atau melakukan berbagai upaya lain untuk memperpanjang usianya.

"Kebayang sekali kalau Bantargebang itu sudah tidak mampu lagi menerima sampah Jakarta, kebayanglah (sekitar) 7.500 ton (sampah per hari mau) dibuang ke mana ini?" tutur Asep.

Baca juga:

Strategi kurangi sampah di hulu

TPST Bantargebang sudah tidak memungkinkan untuk diperluas. Lantas, ke mana sampah Jakarta sebaiknya dibawa?Unsplash TPST Bantargebang sudah tidak memungkinkan untuk diperluas. Lantas, ke mana sampah Jakarta sebaiknya dibawa?

Pemprov DKI Jakarta menjelaskan strategi pengelolaan sampah di bagian hulu untuk mengurangi beban TPST Bantargebang yang sudah dalam kondisi kritis.

Pertama, Pemprov DKI Jakarta mendorong pengelolaan sampah lingkup RW melalui KuPiLAH atau kurangi-pilah-olah.

Menurut Asep, keterlibatan masyarakat Jakarta dalam upaya pengurangan sampah dari sumbernya masih sangat rendah.

DLH DKI Jakarta mengajak masyarakat untuk mengurangi sampah dari sumbernya untuk mengurangi beban TPST Bantargebang, termasuk melalui pemilahan sampah.

"(Sampah di Jakarta yang bisa terserap pengelolaan TPST Bantargebang, daur ulang, dan lain sebaginya) Secara hitungan itu baru sekitar 10-20 persen," ucapnya.

Ia mengakui sebenarnya memang sudah banyak orang Jakarta yang melakukan pemilahan sampah.

Namun, petugas yang mengangkut sampah dengan gerobak biasanya menyatukannya saat membawanya dari tempat penampungan sementara (TPS) ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

"Jadi sekali lagi begini, kadang banyak sekali masyarakat sampaikan kepada kami, 'Saya sudah pilah, Pak, dari rumah tapi tukang gerobaknya nyatuin lagi'. Benar. Sekali lagi memang kalau kami Pemprov itu secara regulasi mengolah sampah dari TPS ke TPA. Untuk dari rumah ke TPS sebenarnya tanggung jawab warga begitu," jelas Asep.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
TPST Bantargebang Tak Bisa Diperluas Lagi, Sampah Jakarta Dibawa ke Mana?
Pemerintah
Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?
Kepedulian Lingkungan Turun saat Seseorang Berlibur, Mengapa?
LSM/Figur
Bantargebang Kritis, Sampah Jakarta Tembus 7.300 Ton per Hari
Bantargebang Kritis, Sampah Jakarta Tembus 7.300 Ton per Hari
Pemerintah
Usai Banjir Sumatera, Banyak Warga yang Tinggal di Pengungsian dengan Fasilitas Terbatas
Usai Banjir Sumatera, Banyak Warga yang Tinggal di Pengungsian dengan Fasilitas Terbatas
LSM/Figur
Dari Kulit Buah Jadi Energi, Eksperimen Sederhana yang Ubah Cara Pandang tentang Sampah
Dari Kulit Buah Jadi Energi, Eksperimen Sederhana yang Ubah Cara Pandang tentang Sampah
LSM/Figur
Sistem Pengelolaan Terpadu Bisa Tekan Biaya dan Emisi Limbah Makanan
Sistem Pengelolaan Terpadu Bisa Tekan Biaya dan Emisi Limbah Makanan
LSM/Figur
Kemenhut Terapkan Syarat Ketat untuk Pengelola Baru Bandung Zoo
Kemenhut Terapkan Syarat Ketat untuk Pengelola Baru Bandung Zoo
Pemerintah
Mandatori Biodiesel B50 Ditunda, Ini Alasan Tak Perlu Buru-buru
Mandatori Biodiesel B50 Ditunda, Ini Alasan Tak Perlu Buru-buru
Swasta
Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
Daftar 10 Spesies Terancam Punah 2026, Belut hingga Tulip
LSM/Figur
Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku
Gajah Sumatera Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Pastikan Pidanakan Pelaku
Pemerintah
Bulog Pasok Komoditas Pangan ke 648 KDMP di Jawa Timur
Bulog Pasok Komoditas Pangan ke 648 KDMP di Jawa Timur
BUMN
Dilarang Naik Gajah, Ini Alasan Kemenhut Hentikan Wisata Gajah Tunggang
Dilarang Naik Gajah, Ini Alasan Kemenhut Hentikan Wisata Gajah Tunggang
Pemerintah
IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
IPB University Dorong Desa Kembangkan Koperasi dan Ekosistem Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
Peneliti Ungkap Kondisi Oksigen Laut Masa Depan lewat Plankton Purba
LSM/Figur
133.792 Petani Jawa Timur Kelola 198.326 Ha Hutan dalam Skema Perhutanan Sosial
133.792 Petani Jawa Timur Kelola 198.326 Ha Hutan dalam Skema Perhutanan Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau